Selasa, 10 April 2018



selamat membaa - Sekarang saya sudah masuk kelas 3 SMA dimana saya serign berolahraga membuat badan saya menjadi atletis , disini saya akan berbagi cerita dewasa terbaruku dengan khalayak pembaca terlebih dahulu saya akan memperkenalkan diri saya , nama saya DODO umur 21 tahun saya mempunyai adik cewek yang umurnya 18 tahun dia cantik seperti ibu yang suka dandan juga.

Ibuku masih muda dia dan bapak menikah muda kira kira umur ibuku sekitar 35an tahun sedangkan bapak saya umur 40an tahun mereka menikah muda karena sudah cocok dan bercukupan jadi mereka tak takut untuk menikah muda sampai sekarang masih awet tapi ibu sering kali di tinggal pergi dirumah karena pekerjaan bisnis bapak yang sudah jalan.

Di rumah kami ada 5 kamar, dua kamar di bawah & 3 kamar lagi di lantai 2. Kamar Adikku berada di atas bersebelahan dengan kamar tamu. Sedangkan kamarku berada di bawah, tetapi berada sedikit jauh dari kamar Ibu, sebab terhalang oleh ruang tengah.

Kamar Ibu & kamar tamu mempunyai kamar mandi masing-masing. Enam bulan belakangan ini hubungan Ibu & Bapak sedikit merenggang mereka telah tak lagi tidur sekamar. Bapak yang sibuk dengan bisnisnya kerap pulang malam & tidur di kamar tamu yang bersebelahan kamar adikku.

Ibu kerap tidur sendiri di kamarnya & kadang tidur bareng dengan adikku bila Bapak tidur di kamar Ibu. Hubungan saya & kedua orang tuaku jadi sedikit renggang. Adikku memang masih dekat dengan Ibu, tetapi ia semakin jauh dengan Bapak. Sebenarnya saya telah DODO h dengan keadaan ini saya takut kerenggangan ini terus berlanjut sampai orang tuaku bercerai.

Sedangkan ini tak mengganggu aktivitas sekolahku & Adikku tetap saja saya khawatir. Suatu hari sahabat-sahabatku mengajak keluar malam nanti jam 8 untuk merayakan ulang tahun salah satu sahabatku di sekolah. Kalau pergi ke luar biasanya saya suka memakai parfum Bapak yang senantiasa di simpan di lemari di kamarnya (kamar Ibu).

Sore harinya saya pergi ke kamar Ibu saya melihat tak ada orang di sana tetapi laptop Ibu masih menyala, mungkin Ibu lagi di kamar mandi. Dengan langkah yang hati-hati saya menuju lemari pakaian Bapak & Ibu. Lemarinya berukuran sangat besar sesampai memungkinkan seseorang untuk bersembunyi di dalamnya.

Aku perlahan-lahan membuka lemarinya untuk mencari parfum Bapak & tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka saya terkejut & langsung bersembunyi di dalam lemari. Lemari ini mempunyai pintu yang terbuat dari kayu yang dihimpit-himpit miring sehingga saya dapat melihat dengan jelas lewat celah kayu tersebut. Ibu keluar dari kamar mandi dengan cuma memakai celana dalam & BH. saya terkejut, baru kali ini saya melihat Ibu telanjang, dadanya Ibu terbilang biasa, tak besar ataupula kecil tetapi sangat seksi & masih terlindung oleh BH-nya.

Ibu duduk di samping ranjang kedian mengambil sesuatu dari lemari kecil di pinggir tempat tidur. Ibu mengambil sebuah dildo berukuran sedang yang tak lebih besar dari kontolku kalau sedang tegang.
Ibu menurunkan CD-nya & melepaskan BH-nya lalu terlentang di kamar tidur, baru kali ini saya melihat perempuan telanjang bulat seperti ini.

Ibu memutar sebuah film porno di laptopnya. Kemudian Ibu membuka selangkangannya & menyelipkan sebuah bantal kecil tepat di bawah bokongnya sampai memeknya sedikit terangkat.
Perlahan demi perlahan Ibu memasukan dildo itu ke dalam memeknya kemudian mengocoknya secara perlahan. “Ahhh…..ahh…. uhhhhh….” Ibu mengerang seirama dengan kocokan dildonya. Tangan satunya lagi meremas-remas dadanya yang seksi.

Melihat kejadian ini saya telah terangsang kontolku sangat tegang & tanpa kusadari saya mulai mengocok-ngocok kontolku di dalam celanaku.

“Ahhh….ahhh…
” & tanpa saya sadari saya mengerang cukup keras & kedengaran oleh Ibu.
“Siapa itu?
” Ibu menghentikan kocokan dildonya, menutup laptopnya kemudian berjalan ke arah lemari. “Siapa di dalam?”….
“Bapak?” ….
”Ngapain Bapak di dalam lemari?”.
“Pak?…. kok jam segini udah pulang?
” Ibu terus bicara sambil mendekati lemari saya terkejut & tidak tahu apa yang harus saya lakukan.
“Ini DODO ma
” saya menjawab secara perlahan. DODO ngapain kau di dalam?
” Ibu kemudian membuka pintu lemari.
“Kau ngapain di dalam?
” saya cuma dapat tertunduk malu di depan Ibuku yang sedang telanjang.
“a…anu… ma… DODO mau ngambil parfun Bapak, & tiba-tiba Ibu datang, jadi DODO langsung sembunyi di dalam lemari”.
“Kau ini kalau kau mau ngambil parfum Bapak kenapa harus sembunyi-sembunyi, Ibu ga akan marah ko, ayo keluar dari lemari”.
Kemudian saya keluar dari lemari sembari menutupi bagian kontol yang masih tegang. “Kau tadi liat Ibu ya?”
“Iya ma, maafin DODO  ya, DODO janji ga akan ngulanginya lagi”
“sudah ga pa pa, ayo keluar, itu nya jangan di pegangin gitu donk
” Ibu sambil melihat ke bagian kontolku yang masih pakai celana.
“Maafin DODO ya ma”
“sudah gak apa apa” lalu Ibu memelukku, kontolku nempel di bagian perut Ibu & membuat kontolku semakin tegang. DODO , itu punya kamu?”
“punya mu telah gede ya, sini biar Ibu liat” mema bertanya dengan penasaran apa yang menempel di perutnya. “tetapi bukk…….”
“ayo ga usah malu, saya ini Ibumu, sini biar Ibu liat”.
Kemudian Ibu berjongkok mengeluarkan kontolku yang telah tegang tak tertahankan.
“Telah berapa lama tegang seperti ini?, kasihan kalau ga di keluarin”
“ dari tadi bu”
“Ibu keluarin ya biar ga tegang lagi”.

Kemudian Ibu mengocok perlahan kontolku, tak ku sangka Ibu malah memasukan kontolku ke mulutnya. Perlahan-lahan saya merasakan nikmat yang luar biasa, untuk pertama kalinya kontolku dinikmati oleh perempuan, & itu pun merupakan Ibuku.
Sedotan demi sedotan saya rasakan semakin nikmat di kontolku.
“Enakkk bu,, terus…., terus,,” nada ku sedikit mengerang.
“kalau kau mau kau boleh sambil peras-peras susu Ibu”. tanpa pikir panjang saya mulai memeras susu Ibu. ndik, di ranjang yuk, kalau sambil berdiri gini ga bebas ngulumnya”.
Lalu Ibu mengajakku ke atas tempat tidurnya,aku terlentang di atas tempat tidur Ibu terus mengkulum kontolku dengan bibirnya yang seksi sambil terus ku remas-remas susunya. Beberapa menit berlalu,
“bu DODO  mau keluar”
“keluarin aja di mulut Ibu, jangan malu”
“iya bu”….. ahhhhhh…….ahhhhhh,….DODO keluar…..” saya mengeluarkan spermaku di dalam mulut Ibu & Ibu terus menghisapnya sampe tak ada sperma yang keluar dari mulutnya,
“wah pejuh kau banyak juga ya ndik, Ibu jadi ketagihan”.
“Ma maafin DODO ya” saya berbaring di pinggir Ibu, kemudian kita ngobrol dengan tetap telanjang.
Ibu curhat tentang masalahnya dengan Bapak, telah lebih dari enam bulan Ibu tak berhubungan badan dengan Bapak. Ibu senantiasa melampiaskan nafsu seksnya dengan dildo, sedangkan demikian Ibu senantiasa minum pil KB sebagai antisipasi bila sewaktu-waktu Bapak ingin menyetubuhi Ibu.
Sekitar sepuluh menit kita ngombrol omongan Ibu semakin panas. Dengan sedikit berbisik Ibu bicara ndik kau mau puasin Ibu ga?” “maksud Ibu?. “ayo ndik jilatin puting Ibu, dari tadi Ibu udah ga tahan pengen di jilatin.”
Pikirku rasanya egois kalau tak muasin Ibu juga, tanpa pikir lagi saya langsung menjilati puting Ibu. kiri & kanan bergantian saya jilati sembari memainkan tangan kananku di memek Ibu. “Awwww…DODO kau nakal juga ya” ucap Ibu ketika jariku bergerayam di memeknya.
Kemudian saya turunkan jilatanku ke memek Ibu, DODO kau pintar banget, belajar dari mana sayang? Kerap nonton ya?” “Iya ma biasa sama anak-anak” “gak apa-apa asal kau jangan jajan sembarangan” saya terus melanjutkan permainanku di memek Ibu.

Melihat ekspresi Ibu yang terangsang akupun kembali mulai terangsang, kontolku perlahan-lahan mulai naik & bergerak bebas di kaki & paha Ibu.
“Sayang kontol kau udah naik lagi ya, Ibu udah ga tahan masukin aja punyamu ke memek Ibu”.
“beneran ma?”
“Iya sayang, sini biar Ibu hisap dulu kontol kamu
”Ibu memintaku untuk memasukan kontolku di mulutnya lagi. Bibir seksi Ibu & lidah Ibu yang bermain di kepala kontolku membuat kontolku semakin tegang. DODO, kini kau masukin punyamu ke memek Ibu
” Ibu melepaskan kontolku & membimbingnya ke memek Ibu.
“Jangan takut, Ibu kan suka minum pil KB, Ibu ga akan hamil ko”. saya arahkan kontolku ke lubang memek Ibu, lubang tempat dulu saya lahir.
Posisi Ibu terlentang & selangkangannya terbuka, Ibu menyelipkan bantal kecil di bawah bokongnya sesampai Memeknya sedikit terangkat, kemudian tangan Ibu membimbing kontolku sampai di bibir memeknya. saya merasakan hangat sekali di kepala kontolku.
“sayang, kini kau tekan perlahan
“ perlahan saya menekannya sampai kepala kontolku masuk.
“Ahhh sayang, punya kau gede & enak, terus tekan”.
Terasa hangat, basah & enak sekali Memek Ibu. saya melanjutkan sampai seluruh batang kontolku amblas di telan Memek Ibu.
“Tahan dulu sayang, biarkan memek Ibu terbiasa dulu dengan kontol kamu
” akupun membiarkan kontolku tertancap di dalam memek Ibu yang sangat basah. “Kini kau kocok perlahan
” saya pun mengocoknya secara perlahan
“Gimana enak kan”
“enak banget ma baru kali ini DODO menyetubuhi perempuan”.
“Sayang, ini namanya ngentot, teruskan genjotanya sampe Ibu puas”
“Terus kocok sampe Ibu puas sayang”,
“Ahhhhh……ahhhhhh” Ibu terus mengerang kenikmatan saya terus mengocok kontolku. Sekitar 10 menit berlalu, ibu mengerang semakin keras.
Ndik Ibu udah mau nyampe, ahhhh…. udah gak tahan sayang”, “ahhhhhh……ahhhhh….sayang…..enakkk…. .
” Ibu orgasme dengan sangat hebat, membuat memek Ibu semakin basah. Dinding memeknya berkendut-kendut & membuat cengkramannya semakin sempit di kontolku.
Aku pun terus melanjutkan kocokanku. “terus sayang, lanjutkan Ibu puas banget udah lama Ibu ga sepuas ini” saya terus melanjutkan kocokanku cukup lama sampe saya merasa ada yang ingin keluar dari ujung kontolku, saya tak menyangka saya dapat bertahan sejauh ini.

Aku terus mempercepat kocokanku, & mengerang. Res, kau udah mau keluar ya?
” ibu bertanya sambil tangannya membelai-belai kepalaku
“Iya bu, DODO mau keluar”
“Keluarin di dalem sayang, Ibu juga udah mau keluar lagi” saya semakin dalam menancapkan kontolku & terus mengocoknya”
“Ahhhh,,,DODO keluar buuuuu,,, ahhhhhh….“ “Crootttt…..crrroottttt…..” semua sperma ku tembakkan ke dalam rahim Ibu, terasa enak banget rasanya mengeluarkan sperma di dalam memek yang dulu pernah melahirkanku.
Sampai tetesan terakhir saya tak henti mengcocok memek Ibu, ketika sperma ku mulai habis Ibu pun berteriak, DODO  Ibu juga enak,,,,,,ahhhhh,,,ahhhhhh enak….sayang….Ibu sampe….

” Ibu kembali orgasme dengan hebat untuk kedua kalinya, setelah itu saya terbaring lemas di atas dada Ibu yang seksi.
“Ma kalau DODO mau lagi boleh kan? saya meminta dengan lirih.
“Boleh sayang asal Bapak & adikmu tak tahu”. Ibu menjawab dengan lembut
“Iya ma ini akan jadi rahasia kita”. Sejak ketika itu saya terus menyetubuhi Ibu, di kamar, di dapur di ruang tengah, bahkan di kamar mandi sepanjang di rumah tak ada siapa-siapa saya senantiasa menyetubuhi Ibu. saya juga tak perlu khawatir membuat Hamil sebab Ibu senantiasa minum pil KB. Selesai cerita dewasa sedarah terbaru.


Cerita Sex Nikmatnya Ngentot Sama Ibu Kandung Ku



Namaku Rendi usia 23 tahun dan aku bekerja pada sebuah perusahaan Media yang cukup terkenal.

Oh, Malam ini aku pulang kemalaman dari kantor dengan motor balapku.... Duh, mana ujan deres banget nih malem... bete banget nih jadinya. Akhirnya aku berteduh di daerah Mampang.... hmm.. lumayan juga jadi ngga basah kuyub pakaianku ini. Aku berdiri di depan sebuah ruko yang sudah tutup dan aku kebagian dibarisan paling ujung (dekat dgn tikungan masuk sebuah gang pinggir jalan raya tersebut). Ku bakar sebatang rokok untuk sedikit melawan hawa dingin yang mulai merasuk di badan ku. Sebuah mobilpun memasuki gang tersebut... wah enaknya ya kalo aku pakai mobil seperti itu dan pastinya ngga akan aku kebasahan seperti ini. Hmmm.... mungkin aku harus lebih giat lagi bekerja untuk bisa membeli mobil seperti itu someday.

Tiba-tiba jendela mobil yang sedang aku kagumi itu terbuka.....dan seorang wanitapun memanggilku..... Rendi!!!!.. kamu rendi kan? ini aku Ica... ngapain disitu? tanyanya. Heiii..!!!! Ica..!! eh kamu toh... kirain siapa? iya nih lagi nunggu ujan berenti dulu.. payah deh ujan deres banget nih.... taklama kemudian Ica pun turun membawa payung dan menghampiriku sambil menyuruh supirnya meminggirkan mobilnya. Waoooww, Rendi? kamu keren banget sekarang.... apa kabar? tanya Ica. Hmm.. aku baik aja, Ca... Ko' turun sih? ujan lho.... sahut. Ngga ko' ngga papalah.... oh ya, kamu ke rumah aku aja yuk.... dah deket ko'.. coba kamu liat itu di depan kan ada tanda letter 'S' kan? nah itu yg tembok silver rumah ku....

kesana aja ya.. aku tunggu lho....! ajak Ica kepadaku. Egghhh... hhhmmm.. gimana ya? okelah.... ya udah kamu duluan aja, Ca... ntar aku kesana deh.... Jawabku. Oh ya, Icha adalah temen kampusku dulu.... Wajahnya imut, rambut hitam lurus sebahu, kulit putih bersih, ukuran dada 32, pinggang ramping, pinggul besar, tinggi sekitar 158 cm dan berat badan 49 Kg. Aku rasa cukup gambaran tentang seorang Ica untuk BF' mania he..he.. Icaaaa..Ica.. ternyata makin cute aja dia sekarang... yach terlihat ngga ada yang berubah sih dari dia semenjak kuliah dulu. Sebenernya Ica suka sama aku sejak kuliah dulu (aku taunya dari tulisan kecil didalam buku kuliah dia yang sempat terbawa olehku dulu... dan sampe sekarang masih aku simpan di kamar kostku dan ngga pernah aku kembalikan he..he..) namun sayangnya kala itu aku sudah punya kekasih.. Siska namanya..... Siska adalah temen kampusku juga, hanya dia beda fakultas dengan aku dan Ica tapi sekarang Siska sudah pergi keluar negeri untuk melanjutkan studi-nya di Australia dan akhirnya Siskapun putus denganku.

Oh ya, balik lagi ke topik semula....
Kemudian aku menuju motorku dan menuju rumah yang Ica seperti yang dia sudah tunjukkan kepadaku tadi. Sesampainya di depan garasinya, ternyata Ica masih ada di garasi mobilnya dan tengah menurunkan barang bawaannya. Ca... Ica... aku nih Rendi!!!... panggilku. // Hei, udah sini masukin motornya buruan nanti keburu basah pakaian kamu // Oke deh.... tunggu ya // Aku langsung mendorong motorku masuk ke dalam garasi mobil rumah Ica dan supirnya yang membukan pintu garasi itu. Oh ya, Ren.... sebentar ya aku masih nurunin barang-barangku dulu nih... kamu masuk aja duluan // oh, biar aku bantuin deh sini... // udahlah ngga usah, Ren... tinggal sedikit lagi ko'..// ngga papa ko'.... tenang aja, Ca.. kita kan temen he..he..he.. . Setelah aku menaruh motorku, aku pun menhampiri dia untuk membantunya membawa barang bawaannya dari dalam mobil. Mungkin karena Ica terlalu kebelakang mundurnya, makanya pantatnya menabrak bagian depan tengah badanku alias nyenggol tongkol ku pastinya. Aduh..!!! sorry... sorry... Ren.... ngga papa'kan kamu... // ngga... ngga papa ko .... (gila padat juga pantat Ica rupanya) // Ren, kamu tuh ya... (Ica tersenyum dan matanya keliatan cukup nakal melirik bagian yang tertabrak olehnya itu) // hhmm... ken... kenapa sih, Ca? // Itu kamu lho, Ren... berasa juga kena pantatku tadi ha..ha..ha.. (Malu aku dibuatnya) // oh sorry deh, Ca... taukan cuaca begini suka larinya ke biji juga he..he...he... // dasar kamu dari dulu masih aja ngga berubah... eh Ren masuk yuk ke dalem. ohya thanks ya udah bantu aku bawain barang-barang ini // its ok.... tenang aja (jawabku sambil tersenyum).

Kami masuk ke dalam rumah dan aku duduk di ruang tengah dan Ica langsung masuk ke kamarnya. Ren, aku ke kamar dulu ya ganti pakaian nih.... // Oke... aku tunggu sini deh // ohya, Ren.. kalo kamu mau nonton TV nonton aja tuh remote-nya.... // yups. Ngga lama Ica pun keluar dari kamarnya dan sudah ganti pakaiannya dengan .... wwoowwww... Ca!! seksi banget sih kamu.... // akh seksi apaan, Ren... ini kan biasa kali kalo aku dirumah.... (Ica memakai baju tidur yang agak tipis...wadoh.. berdiri deh tongkolku ini... aduh, mana keliatan bener tonjolannya....). // kenapa kamu, Ren... ko jadi salah tingkah gitu sih? he..he..he.. // akh kamu, Ca... ngga lah.. ngapain juga mesti grogi sama kamu yeee // alaaahhh, bilang iya juga ngga papa ko'.. eh iya, gimana kabar Siska pacar kamu? kalian dah nikah? // Siska? aku dah putus sama dia, Ca... kan dia sekarang di Australia nerusin studinya... biar aja lah udah jadi cerit lama. // Oh sorry ya, Ren.. aku bener2x ngga tahu lho.... nah trus sekarang siapa lagi korban kamu ?? ha..ha..ha..// alaaahhh... jangan gitu deh.. itu kan masa lalu, Ca... // ciyeeee.... biasanya kamu kan beringas bener, Ren... // Akh, siapa yang nyebar gosip tuh, Ca? // ada deeeeeyy... hahaha.... jawab Ica // Eh, terus kamu udah dapet cowo sekarang? // Yach, Ren... tau sendiri kan... aku tuh dari dulu sampe sekarang belum pernah pacaran... banyak sih yang pengen deketin aku tapi aku jutekin aja .. eh pada mundur semua ha..ha..ha.. // emang, dari dulu kamu emang gitu, Ca... kamu kan dah dicap cewe jutek sekampus he.he..he.. // yach mungkin kali ya, Ren... tapi apa mungkin juga karena aku masih mengharapkan seseorang kali ya?

Suasanapun langsung terasa sangat hening....... aku liat Ica tertunduk sambil mengenggam tangan sendiri. Aku langsung ambil inisiatif untuk duduk disampingnya.... dan... // Ca, kamu masih mengharapkan aku ya? (aku pun menggenggam jemarinya dan tangan kiriku merangkul pinggangnya yang ramping) Hmmm... aku masih menyimpang buku itu ko', Ca.... // Ren... Ren.... kam.. kamuu ?? jadi kamu tau semua isi hati aku ya? aaaaahhhh.. Rendiiiiii.... malukannnn (dia memukul-mukul dadaku dengan manjanya dan akhirnya Ica pun memelukku erat). Tak lama kami pun saling berpandangan mesraaaaaa banget... suasana rintik hujan rasanya semakin menambah romantis malam itu.... aku rasakan satu kedamaian yang telah lama tak pernah aku rasakan semenjak berpisah dengan Siska mantanku.

Tiba-tiba.... Tok..tok.. tok... Bu.. bu... (terdengar suara pintu diketuk oleh seorang lelaki) // Yaaaa... kenapa pa'...? (kemudian ngga lama masuk diapun masuk dengan sangat sopan) // Enu, bu... kalo tidak ada kerjaan lagi, saya ijin pulang ke rumah... atau mungkin Ibu ada acara lagi? kalo memang ada biar saya tetep tunggu diluar.... // Oh, ngga ko' pak.... Bapak boleh pulang.. oh ya di kulkas dapur ada buah mangga.. bapak ambil aja dan bawa pulang ke rumah.. oh ya minta mba Ijah sekalian suruh tutup garasinya yaaa.... // Oh, makasih buuu.... makasih ..... Pa' Rendi, saya pulang dulu.. (Pa' Sopir itupun ijin juga sama aku) // iya.. iya.. ati-ati pa'..... Sopirnya Ica pun melangkah ke arah dapur untuk mengambil mangga sama Mba Ijah pembantunya kemudian menghilang dibalik pintu dapur. Tak lama terdengar suara garasi tertutup tanda dia sudah pulang.

Kemudian kamipun saling bertatapan lagi dan Ica memberikanku senyuman kecil yang sangat manis... // Ren, kamu tau? aku sayang kamu.... // Hmmm... aku juga Ca.... sebenernya aku juga menaruh perhatian sama kamu.. tapi kan kamu tau dulu aku milik Siska.... (sambil kugenggam tangannya) Ca, boleh aku cium kamu? (Ica pun memejamkan matanya.... aku memandanginya sejenak... oh, betapa cantiknya Ica...) akupun mencium bibirnya dgn lembut dan penuh perasaan.... dia membalasnya lembut pula kepadaku.... // (Ica mendesah dan membuka matanya) ooohhhhhhhh.... Ren... terus cium Ren.... bawa aku kedunia kamu, Ren.... Ren, mau ngga kamu bawa aku ke kamar? // aku gendong kamu ya, Ca...! // iya..... (jawabnya manja sambil tersenyum kepadaku). Sesampaikan di kamar Ica, aku langsung menuju ke arah ranjangnya yang terlihat sangat empuk dan aku pun mulai membuka pakaian Ica.... // Ca, aku buka ya pakaian kamu.... //
iya sayang buka aja.... oooohhh, Ren.... bawa aku terbang Ren... suasana ini selalu sudah aku impikan dari dulu... aku ngga peduli lagi ren.... aku sayang kamu.... pleaseeeee, Ren.... // setelah aku buka seluruh pakaian Ica..... woowww.. terlihat semua bentuk dan setiap sisi tubuh Ica... // Ca, tubuh kamu indah sekali..... // Nikmati sayang.... ayooooo doung, Ren... aku ngga tahan nih.... // iya sayang.... aku buka juga pakaianku.

Setelah aku melepaskan semua pakaianku..... // Rendiiiiii...!!!! Wooooww.... Itu kon.... konn... tongkol kamu ??? besar banget, Rendiiiiiiii..... ooohhhhh.... (matanya terbelalak) // iya. Ca.. kenapa emangnya? ngga suka ya? (tanpa basa basi lagi Ica langsung saja mendekati tongkolku dan melumatnya dengan sangat bernafsu sekali). Oh, Ca..... ahhhhhh.. gila kamu Ca..... oooohhhh... en..enaakkkk Caaaaaaa.....teruuuuuuuuuussssss cccccaaaaaaa..... (Ica menjilati tongkolku dan mulai air liur dari mulutnya membasahi batang tongkolku... oh, nikmat banget, Caaaaa.... kamu hebat banget sih Ca? aaaakhhhh.... akhhh.... Ca...Ca...Caaaaaaa..... akhhhhhh.... (aku cabut tongkolku dari mulutnya) // Rendiiii, ko dicabut sih... aku lagi enak nih jilatin batang tongkol kamu.... gedeeeeeeeeee....(dengan manjanya di menyebut 'gedeeeeeeeeee....' jadi bikin gemes aja kan) // gantian dong, Ca...... aku juga kan pengen muasin kamu..... (aku menuju payudara Ica.. ohhhhh putihnya payudara Ica terlihat jelas.... lalu aku langsung jilatin puting yang masih kecil dan berwarna merah jambu itu) // Ooooohhhhhh.. Reeeeeennnnnnn.... akhhhhh teruuuuuussss... akhhhhhhh..... ough..ough.. sssttttttt.... ough..ough.. akh Ren, kamu jago banget Ren.. terus.....terus..... yaaaa... iyaaaaa.... Ren... teruuuuuusssss... akhhhh.... (Ica menggelincang hebat sambil kadang membantingkan kepalanya ke bantal dan tangannya yang mungil mencengkeram rambutku). Setelah sekitar 3 menit aku mencumbui payudaranya.. aku langsung menuju bibirnya lagi.. aku lumat bibir mungil itu dengan hebatnya dan kadang aku gigit sambil tanganku memelintir puting susunya... kemudian aku turun ke perut Ica yang rata putih dan mulus itu... dan kemudiaaaaaa..... aku langsung menuju vagina Ica yang masih mungil itu tanpa pemberitahuan dulu ke Ica dan Ica pun kaget bukan kepalang). Ren....Ren.... ohhhhh... kamu apain itu Reeeeennnnnn.... aaakhhhhh.... ough.....ssttttt.... kamu gila Ren.. nikmat bangeeeeeeettttt, Ren...... aaakhhhhhh.... Ahhh...Ahhh...Ahhh... ssstttt..... sungguh tidak berbau vagina Ica.... lendirnya pun tak berasa apa-apa.... hanya lendir saja... dan tak berbau. ooooohhhh.... Reeeeeeennnnnndiiii..... ak... akkk... aku...aku...aku... mauuuu keluaaaaarrrr, Rennnnn.... akhhhhhhhhh....... .akhhhhhhhhh........ akhhhhhhhhh........ Ica mengangkat kepalanya dan kedua pahanya menjepit kepalaku erat lalu... RENNNNNNNNDDDDIIIIIIIIIII......... aku KELUARRRRRRRRRR!!!! OHHHHHH.... OUGHGHHHHH.... AKKKKHHHHHHH....!!! AKKKKHHHHHHH....!!! AKKKKHHHHHHH....!!! tubuhnya mengejang-ngejang dan matanya merem melek.....

aku sukses memberikan Orgasme pada dia..... oohhhh, Ren..... aku keluar...... kam.... kamuuuu niiiihhh gara-garanya... aku kan malu tauuuuuuuu...... // ngga papa lagi Ca.... toh itu kan yang kamu mau dari aku selama ini...... (Ica pun mencium sayang keningku dengan sisa-sisa tenaganya)

Setelah itu... Ren, tongkol kamu masih berdiri tegak tuh.... (diperhatikannya bentuk tongkolku dengan seksama namun penuh napsu terlihat diwajahnya) // Ca, gimana? kamu suka? // Aku suka banget, Ren.... masukin yaaaa... pleaseeeeeeee..... (dia memelas kepadaku) // Iya.... iya.. tapi apa kamu udah siap menerima batang tongkol aku yang besar dan panjang ini???? hayooooo.... // iiihhh, Rendiii.... ya mauuuu doung.. aku siap ko'.......Kemudian Icapun berbaring dan aku mulai mengarahkan batang tongkolku ke mulut Vagina Ica yang terlihat sangat mungil itu. Vaginanya sungguh putih, bersih, dengan dihiasi bulu-bulu halus disekitarnya... ohhh sungguh vagina yang sangat dan sangat indah.... beruntung aku dapat merasakannya. (Aku mulai mendaratkan batang tongkolku ke vagina Ica....) Oh, Ca... sempit banget vagina kamu // Kenapa Ren.... ngga bisa masuk ya? // Iya Ca.... // Oh Ren.... sakiiiiiittt.... pelaaaaann dong, sayanggg... // Iya, Ca.... ini juga aku pelan-pelan.... (aku pun coba melumuri seluruh batang tongkolku dengan air liur dari mulutku berkali-kali dan setiap kali aku mencoba masuk selalu aku lumuri dengan air liurku...) dan setelah lebih dari 40 menit aku mengusahakan dengan sabarnya untuk bisa memasuki surga dunianya Ica ... dan... dann...... Akkkhhhhhhh..... SAKIIIIIITTTT, RENDIIIIIIIII....... sakiiiiittt... sakiiiiittt... sakiiiiittt... sakiiiiittt...Ica mencengkeram pundakku sampai terasa perih sekali rasanya.... namun aku tetap sedikit memaksanya untuk bisa masuk.... ohhhhhh....ohhhhhh....ohhhhhh.... kepala tongkolku udah mulai masuk rupanya.. dan // Reeeeennnnndiiiiii..... SAKITTTTTT... Rennnn .... kamu jahaaaaattttt sama akuuuu, Rennnnnn..... ooooouuughghhhhh....... terlihat Ica mengigit bibir bagian bawahnya sambil menahan rasa sakit itu.... (tongkolku yang besar dan panjang itu udah mulai masuk separuh....) // Rendiiiiiiii.... terussssss....terussssss....terussssss.... akuuuuuuu.... ooohhh.... niiikkmattttt.... enak bangettttt Rennnn.. sumpahhhh.... oohh... (aku semakin semangat setelah mendengar itu dari mulutnya.....) // Gimana. Ca? enak ngga? // Ooohh Rennn... jangan ditanya deh... masukin lagi Rennnn... nikmat banget nihhhh... ouugghhhhh.... ssstttttt..... (sungguh seeeeemmpitt banget vagina Ica dan terasa sesak juga oleh jepitan dinding-dinding vaginanya) aku rasakan hanya separuh saya tongkolku masuk di vagina Ica..... dan terasa sudah mentok di mulut rahimnya... // Ren, udah mentokk niiihhh... akhhh... akhhh... akhhh... niiikkkkmaaattttt... siksa aku Rennnnn dalam kenikmatan muuuu .. ayooooo Reeeennn.... jangan berhenti Reeeennnn.... akhh..akhhh...akhhh... ssstttt...... dan akhirnyaaaaa beberapa saat kemudian,.....
Reeeennnnndiiiiii........ akuuuuuuu.... ak... akkuu keluar lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.... aaaahhhh.... ooouugghhhhhhhhh................ RENDDDDIIIIIIIIIIII..... tanpa sadar dia berteriak layaknya great orgasm yang dia alami untuk kedua kalinya.... dan mungkin karena sensasi yg dia rasakan itu..
akupunnnn..... iicaaaaaa.... aku juga Ca..... oohhhh... oohhhh... oohhhh... shiiiiittttt... Icaaaaaaa..... aku jugaaaaaaaaa........ srrettttttt.... srrettttttt.... srrettttttt.... srrettttttt.... banyak banget aku keluarin spermaku di dalam vagina Ica.... Ica memelukku erattttttttt.... dan sungguh lama dia merasakan orgasmenya itu..... sementara tongkolku masih terjepit diantara dinding vagina Ica.... aaakhh.. ooohhh... ngilu rasanya......

Kamipun akhirnya saling berciuman mesra diatas ranjang dan saling berbagi senyum. Hmmmm.. Ca, .... // apa, sayang...? // Makasih ya.... I love you....!! (aku kecup keningnya sekali lagi) // Aku juga sayang.... I Love you... kamu janji ya ngga akan tinggalin aku // Iya, Ca.... aku janji... aku akan selalu bersama kamu.... // kamu udah ambil keperawananku, Ren.... // AKu janji sayang... aku janji.....

dan tiba-tiba Handphone berbunyi... // Rendi, HP kamu tuh bunyi... Siapa sih sayang malam-malam gini ada telp kamu?? nyebelin deh... ngga tau apa kita lagi kangen-kangenan // coba deh, Ca... aku bangun dulu ya ambil HP ku itu.. biar deh aku jawab.. (sambil berpikir siapa sih yang jam segini telp aku.. tumben banget....

dan Haaaaahhhh!!!!!!!! ternyata yang telp adalahhhh........ SISKAAA..!!!!!!!!!!......... GAWATTTTT!!!






Cerita Sex Nikmatnya Tubuh ABG Mungil



Kuperkenalkan dulu diriku, aku seorang yang berasal dari keluarga sederhana. Namaku Heri, umurku sekarang 23 tahun,aku akan menceritakan awal mula pertama kali melakukan hubungan badan dengan lawan jenis. Saat itu usiaku 18 tahun, aku baru saja lulus dari SMK swasta di kotaku, boleh dikata nilai ijazahku sangat memuaskan,lalu aku melamar pekerjaan ke salah satu perusahaan otomotif terkemuka di negeri ini, disaat aku menunggu panggilan kerja, Om ku datang menawarkan pekerjaan buat aku, katanya ada lowongan di tempat om bekerja, tapi posisinya sebagai OB alias office boy,waduuh apes banget gue, begitu ada yang nawarin pekerjaan tapi Cuma sebagai OB”pikirku, tapi nggak apa dech, itung- itung ngisi waktu buat nunggu panggilan kerja. Dihari pertama aku kerja di tempat om ku, sungguh diluar dugaanku. Ternyata karyawan ceweknya cantik2, banyak lagi. Wah kesempatan nih mumpung aku lagi jomblo, siapa tahu ada karayawati om yang mau sama aku,gumamku.

Aku melihat salah seorang karyawati yang kuketahui bernama Erly, orangnya cantik, putih, tinggi badan kurang lebih 168 cm, ukuran bra kira-kira 36 C ditambah bodinya yang aduhai karena dia giat banget fitness,apalagi pantatnya yang besar,kalau dia lagi jalan,pantatnya naik turun yang bikin pikiran cowok yang memandangnya ingin meremas pantatnya,pernah suatu hari aku melihatnya diruang rest room,dia sedang menanggalkan blouse atasnya,saat itu aku liat dia Cuma pakai hem warna putih transparant yang seakan-akan terlalu kecil buat dia,seakan-akan ada yang nggak muat dibalik bajunya,mungkin karena teteknya terlalu gede kali,wah..wah..montok banget nih cewek, aku sudah membayangkan bagaimana kalau aku bisa meluk dia…pastinya angeeeet banget,Aku mulai cari informasi mengenai dia,apa yang dia suka dan apa yang dibencinya,tiap kali bertemu dia,aku selalu menyapanya..diapun membalas sapaanku..ada kemajuan nih pikirku. Selang waktu 2 bulan, keakraban kami bukan lagi sebagai atasan dan bawahan,saat aku main kerumahnya diapun menyambutku dengan ramah.Sudah saatnya aku mengungkapkan perasaanku kalau aku sayang padanya.”Er aku mau ngomong sesuatu sama kamu,sebenarnya aku sudah lama pengin ngomong ini”dia jawab

ngomong aja,”aku sebenarnya sayang sama kamu, kamu mau kan jadi pacar aku?lalu dengan ekspresi kaget di jawab” Her, berarti selama ini kamu salah tafsir tentang kebaikanku ke kamu,aku Cuma nganggap kamu teman,lagian kedudukan kita berbeda,aku sekretaris kantor sedangkan kamu Cuma OB”saat itu aku bagaikan tersambar petir,bukan masalah aku ditolak, tapi dia sudah menghina aku dengan kata-kata seperti itu.Saatnya aku bikin perhitungan sama dia,nggak masalah aku ditolak,tapi aku harus bikin dia takluk sama aku…besok harinya kebetulan dia kerja lembur karena dapat banyak tugas dari om ku,seandainya dia aku perkosa,jelas sekali kalau dia akan mengadukan aku ke polisi, tapi kalau aku bius, darimana aku bisa dapat Chloroform?akhirnya aku dapat ide, temenku pernah cerita kalau minuman bersoda bermerek s***** dicampur salah satu obat tetes mata I****,bisa bikin orang teler alias pingsan,segera aku membeli minuman serta obat tersebut. Begitu aku sampai kantor, aku campur minuman tadi dengan obat tetes mata dengan dosis beberapa 2 tetes, aku pura2 ngasih sama dia minuman tadi, dengan alasan sebagai permintaan maaf atas kelancanganku dan berharap kita masih bisa temenan, awalnya dia nolak,tapi aku bilang ke dia kalau aku nggak ada maksud lain…biar tidak curiga lalu aku pura2 ijin pulang,tapi sebenarnya aku sembunyi di room direksi,aku intip dia dari ruang itu,aku liat dia mulai teguk minuman yang aku kasih tadi,ternyata benar juga,dalam hitungan menit dia langsung jatuh pingsan diatas kursi kerjanya,wah inilah kesempatanku,aku datangi dia lalu aku coba bangunin dia,siapa tau dia Cuma tertidur….aku colek tangannya dia diem,lalu aku colek teteknya,dia tetep diem…ehhh ternyata beneran dia pingsan,dia kusandarkan dikursi,aku jongkok didepannya,lalu aku peluk dia erat2,akhirnya apa yang aku impikan selama ini tercapai,awalnya aku remas teteknya yang gede itu dari luar pakaiannya,wihh kenyal banget pentilmu Er,ooohhh…enak banget Erly,lalu aku mulai mencium bibirnya yang seksi,aku kulum sampai bibirnya memerah,slurp…oh enak banget…slurp…slurp, aku mulai turun mencumbu lehernya,lalu melepas blousenya, mulai kubuka kancing bajunya satu persatu,wowwww……tiba tiba aku terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat,tetek loe gede banget Er,ini beneran tetek? Kok bias segedesemangka gini…???lalu aku lanjutin membuka BH nya,wiiiii… what a nice tits babe…..aku rasa tetekmu ini lebih dari 36 C,atau mungkin

tepatnya 39 C, American cup size man..pokoknya malam ini loe harus muasin gue,mulai kukulum putingnya yang berwarna merah muda,dan putingnya yang belum nongol,apa mungkin dia sama sekali belum dijamah sama cowok ya? Pikirku,aku mulai menjilati ujung teteknya, kadang aku gigit sampai ada bekas di teteknya,aku makin bergairah saja,aku remas teteknya yang kenyal banget, habisnya kayak bola karet,he..he..kukulum2 sampai putingnya mulai mengeras,lalu aku mulai menjilati pusarnya dan akhirnya kulepas roknya yang seksi itu,Erly aku udah nggak sabar nih,pengin masukin kon***ku ke lubang vag***mu, begitu roknya terlepas dari kakinya,kulihat celana dalamnya yang makin bikin aku bertambah gairah, dia memakai tounge G-string(celana dalam seksi yang kayak tali),yang biasa dipake bule saat berjemur di pantai (kayak yang aku liat di tivi),transparan lagi….aku jilati pahanya yang putih mulus,lalu aku sampai pada ujung pangkal pahanya,mulai kuturunkan celana dalamnya,pelan-pelan aku menghayati aksiku,aku lihat pemandangan yang luar biasa,vag***nya menggelembung kayak seonggok daging,dan mataku tertuju pada klitorisnya yang sedikit basah kemerahan,dengan ditumbuhi bulu halus disekitar organ kewanitaannya.Waduh harus cepet-cepet nih masukin barang gue,udah ngaceng keatas gini…aku mulai menjilati dengan ganasnya,lalu aku buka bibir kemaluannya,kujilati terus tanpa henti,Erly ini saatnya gue masukin tongkol gue ke vag*** loe,kon*** gue udah nggak tahan nih,aku tanggalkan semua pakaianku,kini kami berdua telanjang tanpa sehelai benangpun,aku geser tubuhnya sedikit lalu aku angkat kaki kanannya…..aku tempelkan kon***ku ke vaginanya,mula-mula kugosokkan pelan-pelan mulai dari bibir atas vag***nya yang sudah basah oleh liurku,ini mana sih lubangnya? Susah amat nyarinya,pembaca harap maklum, saat itu aku baru pertama kali ngelakuin yang namanya free sex,begitu ketemu,aku tekan maju mundur dengan pelan2,kok sempit banget pikirku…oke,aku akan paksa kont**ku ngambil perawan loe Er..satu..dua..tiii..gaaaaa…preeet..preett,kok kayak ada yang sobek?? Tapi apa’an ya,awwwww yes…kont**ku dah masuk separuh,tapi rasanya ada yang ngilu di pusakaku ini,kayak kejepit pintu..tapi bedanya ini rasanya enak banget,kutarik pelan-pelan,kudorong lagi..blesssss..akhirnya kont**ku masuk sepenuhnya,lalu mulai kugenjot dia sampai teteknya yang montok itu bergoyang keatas dan kebawah,Er enak banget memiaw

loe,udah cantik,putih,montok ditambah memiawmu yang sempit ini,beruntung banget aku….kugenjot dia selama setengah jam,Er gue mau kluar nih,kluarin didalem aja ya….langsung kuluberkan spermaku kedalam vag***nya crooott…croott,ohhh…ohhh… begitu kont** aku tarik keluar,ada bekas noda darah dikemaluanku, juga pada memiawnya,ternyata dia masih perawan ooiiii….lumayan ML pertama kali dapet bidadari perawan,setelah istirahat 5 menit,kuangkat dia keatas meja,kutaruh dia dengan posisi tengkurap,lalu aku ent*t lagi memiawnya dari belakang,kuremas teteknya,oohhh..opffhh….yes…oh my god…(biar kayak di film2 porno gitu),enak er…terusin ya sayang,aku lebarkan lagi kakinya dengan posisi badan membungkuk diatas meja,kupeluk dia sambil terus meremas toketnya yang yahud,sampai-sampai genjotanku terdengar suara..creeek..creeek…ccreeek…aku masih belum puas,lalu kurapikan lagi pakaiannya,mulai dari baju, blouse sampai roknya,tapi tanpa BH dan celana dalamnya,gue akan lebih puas kalau ngent*t loe dengan pakaian utuh,biar kayak karyawan kantor yang lagi ngelakuin affair secara sembunyi,lalu aku duduk dikursi,kutaruh dia diatasku dengan posisi membelakangiku,tangan kiriku meremas teteknya dari belakang,sedang tangan kananku menelusup kedalam roknya,aku arahkan lagi rudalku kearah vag***nya,dan bleeess…ohhh…enak banget Erly,oohhh…ngent*t loe dari belakang sambil megang toket loe,oohh..nggak tahan neh Er,gue mau keluar lagi nih….croott..croott…legaaa….aku bangun lagi,lalu aku telentangkan dia dilantai,kubuka lagi kancing bajunya,Erly aku pengin ngent*t toket loe nih….kuhisap dulu pentilmu ya,sluuuurp….sluuuurp…segeeeerr….enaaak banget kalo minum susu dari sumbernya,lalu kutaruh ludahku ditengah toketnya yang putih mulus itu,biar licin gitu….kutempatkan kont**ku di situ,kutekan toketnya dari samping kiri kanan biar bisa menjepit kont**ku,mulai ku maju mundurkan rudalku,,wowwwww…..what incredible tits honey,I ‘d never felt like this before ( ya iyalaaahh,namanya juga baru pertama kali ngesexnya),kont**ku Cuma kliatan helmnya,seakan-akan kont**ku tertelan sama toketnya erly,,apalagi saat aku duduk diatas tubuhnya,pantatku terasa angeet banget,dan pahaku terasa bergetar saat terbentur toketnya yang montok dan kenyal itu,makin kupercepat gerakanku,makin terasa nikmat…ploook…plokk…plook…ohhhh…aohhhh…terusin ya sayang,toketmu bener2 luar

biasa,sambil aku remas pentilmu yang gede dan putih ini,putingmu aku pelintir ya,biar makin nongol keatas,babe,my sperm want to cum’….mau kluar nih saying,udah nggak tahan,crooottt…crooot….crooottt….spermaku keluar membasahi wajahnya yang cantik,,thanks honey…malam ini gue bener-bener puas,loe udah ngelayanin gue sampai kont**ku nggak sanggup berdiri lagi,lalu aku ambil tisu sama air buat bersihin dia,lalu kurapikan pakaiannya seakan-akan tak terjadi apa-apa,nggak terasa sudah 3 jam aku melampiaskan nafsuku sama erly


Cerita Sex Sekertaris Cantik Diperkosa Office Boy



Berdiri di depan pintu rumahku, menantu permpuanku, Mirna, mendekatkan kepalanya ke arahku dan berbisik, “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.” Dia memberiku sebuah kecupan ringan di pipi, dan berbalik lalu berjalan menyusul suami dan anaknya yang sudah lebih dulu menuju ke mobil. Yoyok menempatkan bayinya pada dudukan bayi itu, dan seperti biasanya, dia terlalu jauh untuk mendengar apa yang dibisikkan istrinya tercintanya terhadap Ayah kandungnya.
Mirna melenggang di jalan kecil depan rumah dengan riangnya bagai seorang gadis remaja yang menggoda. Yoyok tak mengetahui ini juga, ini semua dilakukan istrinya hanya untukku…
Mungkin kalian mengira aku terlalu mengada-ada soal ini, tapi kenyataannya apa yang Mirna lakukan ini tidak hanya sekali ini saja. Dan sejak aku tak terlalu terkejut lagi, aku merasa ada sesuatu yang hilang jika dia tidak melakukannya saat berkunjung ke rumahku. Aku merasa ada getaran pada penisku, dan sebagai seorang lalaki biasa yang masih normal, pikiran ‘andaikan…’ yang wajar menurutku selalu hadir di benakku.
Mirna adalah seorang wanita yang bertubuh mungil, tapi meskipun begitu ukuran tubuhnya tersebut tak mampu menutupi daya tarik seksualnya. Sosoknya terlihat tepat dalam ukurannya sendiri. Dia mempunyai rambut hitam pekat yang dipotong sebahu, dia sering mengikatnya dengan bandana. Dia memiliki energi dan keuletan yang sepengetahuanku tak dimiliki orang lain. Sebuah keindahan nan elok kalau ingin mendiskripsikannya. Dia selalu sibuk, selalu terlihat seakan dikejar waktu tapi tetap selalu terlihat manis. Dia masuk dalam kehidupan keluarga kami sejak dua tahun lalu, tapi dengan cepat sudah terlihat sebagai anggota keluarga kami sekian lamanya.
Yoyok bertemu dengannya saat masih kuliah di tahun pertama. Mirna baru saja lulus SMU, mendaftar di kampus yang sama dan ikut kegiatan orientasi mahasiswa baru. Kebetulan Yoyok yang bertugas sebagai pengawas dalam kelompoknya Mirna. Seperti yang sering mereka bilang, cinta pada pandangan pertama.
Mereka menikah di usia yang terbilang muda, Yoyok 23 tahun dan Mirna 19 tahun. Setahun kemudian bayi pertama mereka lahir. Aku ingat waktu itu kebahagian terasa sangat menyelimuti keluarga kami. Suasana saat itu semakin membuat kami dekat. Mirna mempunyai selera humor yang sangat bagus, selalu tersenyum riang, dan juga menyukai bola. Dia sering terlihat bercanda dengan Yoyok, mereka benar-benar pasangan serasi. Dia selalu memberi semangat pada Yoyok yang memang memerlukan hal itu.
Yoyok dan Mirna sering berkunjung kemari, membawa serta bayi meraka. Mereka telah mengontrak rumah sendiri, meskipun tak terlalu besar. Aku pikir mereka merasa kalau aku membutuhkan seorang teman, karena aku seorang lelaki tua yang akan merasa kesepian jika mereka tak sering berkunjung. Disamping itu, aku memang sendirian di rumah tuaku yang besar, dan aku yakin mereka suka bila berada disini, dibandingkan rumah kontrakannya yang sempit.
Ibunya Yoyok telah meninggal karena kanker sebelum Mirna masuk dalam kehidupan kami. Sebenarnya, tanpa mereka, aku benar-benar akan jadi orang tua yang kesepian. Aku masih sangat merindukan isteriku, dan bila aku terlalu meratapi itu, aku pikir, kesepian itu akan memakanku. Tapi pekerjaanku di perkebunan serta kunjungan mereka, telah menyibukkanku. Terlalu sibuk untuk sekedar patah hati, dan terlalu sibuk untuk mencari wanita untuk mengisi sisa hidupku lagi. Aku tak terlalu memusingkan kerinduanku pada sosok wanita. Tak terlalu.
Bayi mereka lahir, dan menjadi penerus keturunan keluarga kami. Kami sangat menyayanginya. Dan kehidupan terus berjalan, Yoyok melanjutkan pendidikannya untuk gelar MBA, dan Mirna bekerja sebagai Teller di sebuah Bank swasta.
Kunjungan mereka padaku tak berubah sedikitpun, cuma bedanya sekarang mereka sering membawa beberapa bingkisan juga. Tentu saja, diasamping itu juga perlengkapan bayi, beberapa popok, mainan dan makanan bayi.
Beberapa bulan lalu Mirna dan bayi mereka datang saat Yoyok masih di kelasnya. Dia duduk disana menggendong bayinya di lengannya. Dia sedang berusaha untuk menidurkan bayinya. Aku tak tahu caranya, tapi pemandangan itu entah bagaimana telah menggelitik kehidupan seksualku.
“Ngomong-omong… kapan Ayah akan segera menikah lagi?” dia bertanya dengan getaran pada suaranya.
“Aku tak tahu. Aku kelihatannya belum terlalu membutuhkan kehadiran seorang wanita dalam hidupku. Lagipula, aku telah memiliki kalian yang menemaniku.”
“Aku tidak bicara tentang teman. Aku sedang bicara soal seks.” matanya mengedip kearahku saat dia bicara.
“Apa?”
“Ayah tahu, seks.” dia hampir saja tertawa sekarang. “Ketika seorang lelaki dan wanita sudah telanjang dan memainkan bagiannya masin-masing?”
“Ya, aku tahu seks,” aku membela diri. “Lagipula kamu pikir darimana suamimu berasal?”
“Yah, aku hanya khawatir kalau Ayah sudah melupakannya. Maksudku, apa Ayah tak merindukan hal itu?”
“Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku sudah terlalu tua untuk hal seperti itu.”
“Hei! Lelaki tak pernah bosan dengan hal itu. Setidaknya begitulah dengan putramu.”
“Anakku jauh lebih muda dariku, dan dia mempunyai seorang istri yang cantik.”
“Terima kasih, tapi aku masih tetap menganggap Ayah membutuhkannya,” dia menekankan suaranya pada kata ‘Ayah’.
“Terima kasih sudah ngobrol,” kataku, masih terdengar sengit. Ada sedikit jeda pada perbincangan itu, saat dia masih menekan kehidupan seksualku. Aku pikir bukanlah urusannya untuk mencampuri hal itu meskipun kadang aku membayangkannya juga.
Dia pandang bayinya, yang akhirnya tertidur, dan memberinya sebuah senyuman rahasia, sepertinya mereka berdua akan berbagi sebuah rahasia besar. Masih memandangnya, tapi dia berbicara padaku, “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”
“Apa!!!?”
“Aku serius.” Mirna menatapku. “Kalau Ayah menginginkan aku… Ayah adalah seorang lelaki yang tampan. Ayah membutuhkan seks. Disamping itu, aku bersedia, kan?”
Aku pikir dia sedang bercanda. Tapi wanita yang menggoda ini tidak sedang main-main. Tapi tetap saja tak mungkin aku melakukannya dengan istri dari anak kandungku sendiri. “Terima kasih atas tawarannya, tapi kupikir aku akan menolak tawaranmu.” suaraku terdengar penuh dengan keraguan saat mengucapkannya.
Mirna mencibirkan bibir bawahnya, aku tak bisa menduga apa yang sedang dirasakannya. Dia tetap terlihat menawan, dan aku merasa Yoyok sangat beruntung.
Dia bicara dengan pelan. “Dengar, Yoyok tak akan tahu. Maksudku, aku tak akan mengatakannya kalau Ayah juga menjaga rahasia. Dan bukan berarti aku menawarkan diriku pada setiap lelaki yang kutemui. Aku bukan wanita seperti itu dan aku bisa mengatur agar sering berkunjung kemari. Dan aku tahu Ayah menganggapku cukup menarik kan, sebab aku sering melihat Ayah memandangi pantatku.”
Aku tak mungkin menyangkalnya. Mirna mungkin tak terlalu tinggi, tapi dia memiliki bongkahan pantat yang indah diatas kedua kakinya. “Ya, kamu memang memiliki pantat yang indah. Tapi itu bukan berarti kalau aku ingin berselingkuh dengan menantuku sendiri.”
Dia berhenti sejenak, tapi Mirna kelihatannya tak akan menyerah begitu saja. “Yah, tapi jangan lupa. “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”
Dan itulah awal dari semua ini.
Seiring minggu yang berlalu, entah di sengaja atau tidak, dia seakan selalu berusaha untuk menggodaku, membuat puting sususnya menyentuh dadaku saat dia menyerahkan bayinya padaku untuk ku gendong. Atau dia masukkan jarinya di mulutnya saat Yoyok tak melihat, dan menghisapnya dengan pandangan penuh kenikmatan ke arahku. Suatu waktu dia duduk di lantai dengan kaki menyilang dan sedang bermain dengan bayinya, dia memandangku tepat di mata, tersenyum, dan menyentuh pangkal paha di balik celana jeansnya. Aku tak akan melupakan hal itu. Dan dia entah bagaimana selalu menemukan cara untuk berduaan denganku walaupun sesaat, dan dia memberiku ciuman singkat yang penuh gairah, tepat di bibir. Itu semua dilakukannya berulang-ulang.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia berbisik di belakang Yoyok saat suaminya itu sedang memasukkan DVD pada player.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia berbisik saat mendekat untuk menyodorkan minuman padaku.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia membisikkannya setiap kali dia berpamitan.
Dan sekarang, aku bukanlah terbuat dari batu, dan aku tak akan bilang tingkah lakunya itu tidak memberikan pengaruh terhadapku. Mirna sangat manis dan mungil, dan meskipun setelah melahirkan bayi pertamanya tak membuat tubuhnya berubah seperti kebanyakan wanita. Dia tetap langsing, dan manis, dan dia menawarkan dirinya untuk kumiliki. Tapi aku tak akan memulai langkah pertama untuk tidur dengan menantuku sendiri, tak perduli semudah apapun itu.
Setidaknya itulah yang tetap kukatakan pada diriku sendiri.
Beberapa minggu yang lalu kami semua berkumpul di rumahku untuk melihat pertandingan bola. Aku mengambil beberapa kaleng minuman dan sedang berada di dapur untuk menyiapkan beberapa makanan ringan saat Mirna muncul dari balik pintu itu.
“Hai!” sapanya, membuka pintu dan masuk ke dapur. “Ayah sudah siap untuk pertandingan nanti?”
“Hampir. Aku sedang membuat makanan untuk keluarga kecil kita, dan aku punya beberapa wortel untuk cucuku. Aku pikir dia akan suka dan warnanya sama dengan kesebelasan yang akan bertanding nanti, kan?
Mirna tertawa dan berkata. “Aku rasa dia tak akan perduli. Disamping itu bukankah ada hal lain yang lebih baik yang bisa Ayah kerjakan untukku?”
“Jangan menggodaku. Aku seorang kakek dan aku akan lakukan apa yang menurutku akan disukai oleh cucuku.” aku memandangnya. Mirna berdiri di sana memakai bandana merah kesukaannya diatas rambutnya yang sebahu. Dia memakai kaos yang sedikit ketat yang bahkan tak sampai ke pinggangnya, dan pusarnya mengedip padaku dibalik kaosnya. Kancing jeansnya membuatnya kelihatan seperti anak-anak diera bunga tahun 60an, dan dia memakai sandal dengan bagian bawah yang tebal yang menjadikannya lebih tinggi sepuluh centi. Kuku kakinya dicat merah senada dengan lipstiknya, dan itu menjadi terlihat dengan sangat menarik dibalik denimnya. Dia selalu suka mengenakan perhiasan, dan dia memakainya pada leher, telinga, pergelangan tangan dan bahkan di jari kakinya. Dia membuatku berandai-andai jika saja aku masih remaja, jadi aku dapat memacari gadis sepertinya. Mungkin suatu waktu nanti aku harus pergi ke kampus dan mencari gadis-gadis. Khayalanku terhenti saat menyadari kalau Yoyok dan bayinya tidak mengikutinya masuk. “Mana anggota keluargamu yang lainnya?” aku bertanya ingin tahu.
“Mereka akan segera datang. Yoyok pergi ke toko perkakas untuk membeli peralatan mesin cuci yang rusak. Dia ingin membawa serta anaknya. ‘Perjalanan ke toko perkakas yang pertama bersama Ayah’ kurasa yang dikatakannya padaku.” dia tersenyum. “Apa Ayah mempermasalahkan saat pertama kalinya mengajak Yoyok ke toko perkakas?”
“Aku tak ingat,” aku berkata dengan garing.
Mirna mendekat padaku, dan menaruh tangannya melingkari leherku. “Ini kesempatan Ayah. Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”
Mirna memandangku tepat di mata dan mengangkat tubuhnya dan menciumku lama dan liar. Aku ingin mendorongnya, tapi aku tak tahu dimana aku harus menaruh tanganku. Aku tak mau menyentuh pinggang telanjang itu, dan jika aku menaruh tanganku di dadanya aku pasti akan menyentuh puting susunya. Saat aku masih terkejut dan bingung, aku temukan diriku menikmati ciumannya. Ini sudah terlalu lama, dan aku merasa telah lupa akan rasa lapar yang mulai tumbuh dalam diriku.
Akhirnya aku menghentikan ciuman itu dan mundur dan melepaskan tangannya dari leherku. “Kita tak bisa melakukannya.” aku mencoba menyampaikannya dengan lembut, tapi aku takut itu kedengaran seperti rajukan.
“Ya kita bisa.” Mirna kembali menaruh lengannya di leherku dan mendorong bibirku ke arahnya. Ada gairah yang lebih lagi dalam ciuman kali ini, dan akhirnya penerimaanku. Kali ini saat kami berhenti, ada sedikit kekurangan udara diantara kami berdua, dan aku semakin merasa sedikit bimbang.
Mirna memandangku dengan binar di matanya dan sebuah senyuman di bibirnya. “Ayah menginginkanku. Aku bisa merasakannya. Ayah tak mendapatkan wanita setahun belakangan ini, dan Ayah tak mempunyai tempat untuk melampiaskannya. Dan aku menginginkan Ayah. Jadi tunggu apa lagi…”
Pada sisi ini aku tak mampu berkomentar. Aku menginginkannya. Tapi aku tak dapat meniduri menantuku, bisakah aku? Tapi aku menginginkan dia. Aku merasa pertahananku melemah, dan saat Mirna menciumku lagi, aku jadi sedikit terkejut saat menyadari diriku membalas ciumannya dengan rakus.
“Mmmmm. Itu lebih baik,” katanya saat kami berhenti untuk mengambil nafas. Mirna menarik tangannya dari leherku dan mulai melepaskan kancing celanaku saat menciumku kembali lalu dia mundur. Jadi dia bisa melihat saat dia melepaskan kancing jeansku, menurunkan resletingnya, dan merogoh ke dalam untuk mengeluarkan barangku. Aku terkejut saat terlihat jadi tampak lebih besar di genggaman tangannya yang kecil. Setahun sudah tak disentuh oleh wanita , dan bereaksi dengan cepat, menjadi keras dan cairan pre-cumnya keluar saat dia mengocoknya dengan lembut.
Mirna mundur dan duduk. Saat kepalanya turun, dia menempatkan bibirnya di pangkal penisku yang basah. “Aku rasa aku menyukai bentuknya,” bisiknya sambil menatap mataku. Lalu kemudian dia membuka mulutnya dan dengan perlahan memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Ke dalam dan lebih dalam lagi penisku masuk dalam mulutnya yang lembut, hangat dan basah, dan aku merasa berada di dalam vagina yang basah dan kenyal saat lidahnya menari di penisku. Akhirnya aku merasa telah berada sedalam yang ku mampu, bibirnya menyentuh rambut kemaluanku dan kepala penisku berada entah di mana jauh di tenggorokannya. Penisku tanpa terasa mengejang, dan pinggangku bergerak berlawanan arah dengannya, dan bersiap untuk menyetubuhi wajahnya.
Tapi Mirna perlahan menjauhkan mulutnya dariku, menimbulkan suara seperti sedang mengemut permen. Saat dia bangkit untuk menciumku lagi, aku mengarahkan tanganku diantara pahanya. Aku gosok jeansnya dan dia menggeliat karenanya. “Mmmm, itu pasti nikmat,” katanya. “Tapi biar aku membuatnya jadi lebih mudah.”
Mirna melepaskan kancing celananya dan menurunkan resletingnya, memperlihatkan celana dalam katunnya yang bergambar beruang kecil. Diturunkannya celananya dan melepaskannya dari tubuhnya. Kami melihat ke bawah pada area gelap dibawah sana dimana kewanitaannya bersembunyi, dan kemudian aku sentuh perutnya yang kencang dan terus menurunkan celana dalamnya.
Mirna mengerang dalam kenikmatan saat tanganku mencapai sasarannya dibalik celana dalamnya. Vaginanya serasa selembut pantat bayi, dan aku sadar kalau dia pasti telah mencukurnya sebelum kemari. Terasa basah dan licin oleh cairan kewanitaannya dan membuatku kagum karena itu tak menimbulkan bekas basah di luar jeansnya. Saat tanganku menyelinap dibalik bibir vaginanya dan menyentuh klitorisnya yang mengeras, dia memejamkan matanya dan menekan berlawanan arah dengan jariku.
Mirna menaruh salah satu tangannya di leherku dan mendorong kami untuk sebuah ciuman intensif berikutnya sedangkan tangannya yang lain mengocok penisku dan tanganku terus bergerak dalam lubang basahnya. Saat kami berhenti untuk bernafas, Mirna mundur dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan, “Yoyok datang.”
Aku segera melepasnya dan menuju jendela. Ya, mobil Yoyok terlihat di jalan sedang menuju kemari. Mirna pasti melihatnya dari balik bahuku saat kami saling mencumbui leher. Tiba-tiba perasaan bersalah datang menerkam karena hampir saja ketahuan. Aku tak percaya apa yang hampir saja kami lakukan. Dengan tergesa-gesa aku kenakan kemabali celanaku, tapi Mirna menghentikanku dan menangkap tanganku dan melanjutkan kocokannya.
“Hei, tidak boleh. Tak semudah itu Ayah boleh mengakhirinya. Aku telah menunggu terlalu lama untuk ini.”
“Tapi Yoyok hampir datang! Dia akan melihat kita!”
Mirna mengeluarkan penisku dan berjalan ke arah meja dapur. “Ini perjanjiannya,” katanya. “Aku tak akan mengadu pada Yoyok tentang apa yang baru saja kita lakukan kalau Ayah dapat dapat mengeluarkan seluruh sperma Ayah dalam vaginaku sebelum dia sampai kemari.” Sambil berkata begitu, dia menurunkan celananya hingga lutut dan membungkuk di meja itu.
“Dia segera datang!” hampir saja aku teriak.
“Tidak.” Mirna membentangkan kakinya sejauh celananya memungkinkan untuk itu dan dia memandangku lewat bahunya. “Dia harus menggendong bayi dan mengeluarkan semua barangnya. Biasanya dia memerlukan beberapa menit. Sekarang kemarilah dan setubuhi aku.”
Mirna telah telanjang dari pinggang hingga kaki, dan dia memohon padaku agar segera memasukkan diriku dalam tubuhnya. Aku menatap dua lubang yang mengundang itu. Pantatnya begitu kencang dan aku tak terusik saat melihat lubang anusnya yang berkerut kemerahan, dan di bawahnya, bibir vaginanya yang merah, terlihat mengkilap basah. Kakinya tak sejenjang model, tapi lebih kecil dan terasa pas, dan aku membayangkan bercinta dengannya beberapa jam.
Tangannya bergerak kebelakang diantara pahanya dan menempatkan tangannya pada vaginanya. Dengan dua jarinya dilebarkannya bibir vaginanya hingga terbuka, dan aku dapat melihat lubang merah mudanya mengundang penisku agar segera masuk. “Ayo,” katanya. “Ambil aku.”
Aku tak tahu apa dia sedang bercanda saat mengatakannya. Yoyok atau bukan, rangsangan ini lebih dari cukup untuk mereguk birahinya. Aku melangkah ke belakang menantuku dan menempatkan penisku di kewanitaannya. Saat aku mendorong penisku melewati lubang surganya yang sempit, aku dapat merasakan jari Mirna menahan bibir madunya agar tetap terbuka, dan dia melenguh saat aku memegang pinggangnya dan memasukkan diriku padanya.
Mirna telah sangat basah hingga aku dengan mudah melewati vagina mudanya yang sempit. Aku mulai mengayunkan barangku di dalamnya, sebagian didorong oleh nafsu akan tubuh menggairahkannya dan sebagian oleh rasa takut jika Yoyok memergoki kami. Mirna mengerang, dan aku dapat merasakan jarinya menggosok kelentit dan bibir vaginanya sendiri. Nafasnya mulai tersengal, dan setelah beberapa goyangan dariku, dia segera orgasme. Suara rengekan pelan keluar dari bibirnya saat dia mencengkeram pinggiran meja dengan kuat, dan letupan orgasmenya menggoncang kami berdua saat aku menghentaknya.
Itu cukup untuk menghantarku. Aku tak berhubungan dengan wanita dalam setahun ini, dan aku belum pernah mendapatkan yang sepanas Mirna. Aku menahan nafas dan mendorong seluruh kelaki-lakianku ke dalam dirinya. Kami mematung, dan kemudian spermaku menyemprot dengan hebat jauh di dalam surganya. Serasa aku telah mengguyurnya dengan sperma yang panas dan berlebih. Dia mengerang dalam nikmat, menggetarkan pantatnya di seputar penisku saat aku mengosongkan persediaan benihku. Dia melemah seiring dengan habisnya spermaku, dan kami akhirnya berhenti bergerak, kecuali untuk mengambil nafas.
Takut Yoyok akan datang sebelum kami sempat melepaskan diri, aku keluarkan diriku dari tubuhnya dengan bunyi plop yang basah, lalu mundur menjauh dan mengenakan celanaku. Mirna masih tetap berbaring tertelungkup di atas meja merasakan kehangatan campuran cairan birahi kami, pantat telanjangnya masih tetap memanggilku. Aku lihat spermaku dan cairannya mulai meleleh keluar dari bibir surganya. Aku palingkan muka dan melihat Yoyok hampir sampai di pintu belakang, bayi di tangan yang satu dan belanjaan di tangan lainnya.
Aku berbalik dan memohon pada Mirna. ” Ayolah!” kataku. “Kamu telah dapatkan keinginanmu. Dia hampir sampai kemari.”
Mirna bangkit, tatapan matanya masih kelihatan linglung. Dia bergerak ke depanku, menjadikanku sebagai penghalang dari pandangan suaminya saat dia dengan tergesa-gesa memakai celananya.
“Apa kalian sudah siap untuk pertandingannya?” tanya Yoyok sambil membuka pintu.
“Ya,” aku menjawab dari balik punggungku saat aku diam untuk menghalangi Mirna yang menaikkan resletingnya. Setelah dia selesai, aku segera berbalik untuk menyambut Yoyok.
“Ini,” katanya, menyodorkan bayinya padaku dan meletakkan belanjaannya diatas meja dapur.
“Urus ini, aku akan mengambil popok bayi.” Yoyok melangkah ke pintu yang masih terbuka, dan aku menghampiri Mirna. Dia masih terlihat sedikit linglung.
“Hampir saja,” kataku.
“Sini, biar aku yang menggendongnya.”
Aku berikan bayinya. Mirna memberiku pemandangan seraut wajah dari seorang wanita yang puas sehabis bersetubuh, dan memberiku ciuman hangat yang basah.
“Masih ada satu hal lagi yang harus kuketahui,”katanya.
“Apa itu?”
“Kalau aku ingin, bisakah aku mendapatkannya besok?”
Dan dia melenggang begitu saja tanpa menunggu jawabanku yang hanya melongo bengong. Dia yakin kalau akan bersedia…


Cerita Sex Menantu Sexy Bikin Papa Ereksi


Aku bekerja sebagai pembantu disebuah rumah tangga. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri yang sudah berumur. Karena anak2nya sudah menikah dan tidak tinggal bersama mereka, pasangan manula itu menerima kos2an. Yang kos disitu hanya seorang, lelaki, umurnya 40 tahunan lah, Doni namanya. Aku memanggilnya dengan sebutan om Doni, dan dia gak berkeberatan.

Om Doni suka bawa cewek abg ke kamarnya. Memang kamarnya terpisah dari bangunan utama dimana pasangan manula itu tinggal. Dia keluar masuk tidak lewat pintu utama tapi lewat pintu samping disebelah garasi. Garasinya cukup besar sehingga muat 2 mobil berjajar, mobil si bapak dan om Doni. Cewek yang dibawa sering ganti2, tapi semuanya seksi. Toket dan pantatnya besar. Kalo sudah dikamar, aku suka nguping. Terdengar cekikikan, tapi gak lama kemudian terdengar erangan si cewek, pasti sedang dien tot. Napsuku berkobar2 kalo sedang nguping dia ngen tot. Tanpa terasa aku sering meremas2 toketku sendiri yang gak kalah gedenya dengan toket abg nya. Saking napsunya, tanganku kemudian merogoh kedalam CD ku mengilik i tilku sendiri sehingga tanpa sadar aku terengah2 sendiri didepan kamarnya.

Ketika membersihkan kamarnya, aku membuat posisi kordennya sedemikian rupa sehingga aku bisa ngintip kedalam kamar. Dia tidak mengetahui bahwa aku bisa ngintip kedalam kamarnya, dan dari tempat aku ngintip, aktivitas yang dilakukan di ranjang bisa aku lihat dengan jelas. Suatu malem, aku lihat dia bawa abg lagi ke kamarnya. Setelah mereka masuk kamar, segera aku ngintip mereka berdua. Dia sedang menelanjangi ceweknya, lalu ditelentangkan di ranjangnya. Toketnya besar, pentilnya juga besar, berdiri tegak. Jembutnya lebat. Gak lama kemudian dia bergabung dengan ceweknya diranjang, bertelanjang bulat. Aku terkejut melihat kon tolnya yang besar dan panjang, sudah ngaceng dengan kerasnya. Dibandingkan dengan kon tol suamiku di kampung, suamiku punya gak ada apa2nya.

Aku memang sudah menikah, seperti kebiasaan orang kampung, anak cewek masih belasan tahun sudah dinikahkan. Suamiku tetep tinggal didesa mengerjakan sawah milik bapakku. Dengan alasan mencari tambahan, aku bekerja sebagai pembantu di kota. Aku pulang kampung gak menentu, tergantung uang yang aku kumpulkan sudah cukup banyak atau belum. Karena tinggal misah makanya aku belum hamil, aku juga belum mau hamil karena aku merasa masih abg juga.

Melanjutkan intipanku, dia sudah menancapkan kon tol gedenya di no nok ceweknya, si cewek sudah mulai mengerang keenakan karena enjotan kon tol om Doni di no noknya. Aku tidak dapat menahan napsuku, segera aku kembali kekamar. Seluruh pakaian aku buka dan aku mulai meremas toketku dan mengilik i tilku sendiri, makin lama napsuku makin memuncak sampai akhirnya dengan erangan panjang aku nyampe juga. Pengen rasanya aku ngerasain kon tolnya keluar masuk di no nokku. Selanjutnya setiap dia membawa abg ke kamar, aku selalu ngintip aktivitasnya dan berakhir dengan terkaparnya aku diranjangku setelah nyampe akibat ngilik i til sendiri.

Aku mulai pasang aksi untuk memikat dia. Suatu malem minggu, dia tidak kemana2. Aku mengenakan baju terusan dari bahan kaus yang ngepas di badan. Agak mini sehingga pahaku terlihat dengan jelas. Bagian dadanya agak terbuka, aku tidak mengenakan bra sehingga toketku yang montok bergerak2 kalo aku berjalan. Kalo aku membungkuk, toketku seakan mau loncat keluar dari belahan bajuku di dada. Aku make CD yang mini, karena memang semua CDku yang tidak banyak itu mini modelnya, malah ada yang minim sekali.


"Om, kok ngajak ceweknya", tanyaku sambil menyiapkan makan malem. Untuk yang punya rumah, meja makannya terpisah di ruang utama. Mereka sedang dan pergi menginap dirumah salah satu anaknya. "Enggak", jawabnya sambil menyuap makanan yang kuhidangkan. Sengaja aku membungkukkan badanku ketika meletakkan lauknya di meja makan. Dia melirik ke arah toketku yang montok. "Emangnya om gak pengen", pancingku lagi. "Pengen apa", tanyanya. "Kan biasanya sama ceweknya, asik2an", godaku lagi. "Kamu suka nguping ya", katanya sambil tersenyum. "Gak usah nguping juga kedengaran kok om, ceweknya keenakan", jawabku lagi. Dia diam saja dan meneruskan makannya. Aku menambah air minumnya, ketika menambah air posisiku agak membungkuk. Kulihat matanya segera menerobos belahan dadaku dan 'menjilat' toketku. "Kamu montok ya Nes", katanya, kelihatannya usahaku untuk memancing perhatiannya mulai ada follow upnya. "Besar gitu, sering diremes ya Nes", katanya lagi. "Siapa yang ngeremes om, paling Ines remes sendiri", jawabku terus terang. "Kok diremes sendiri", tanyanya. "Abis gak ada yang ngeremesin sih", kataku sambil tersenyum menggoda. "Aku remesin mau enggak", katanya lagi to the point. "Ntar ceweknya marah", kataku. "Aku gak punya cewek kok", jawabnya. "Yang suka om bawa itu siapa", tanyaku. "Cuma temen, dia pengen aku juga pengen, jadilah", jawabnya. "Temennya banyak ya om, ceweknya ganti2 terus", kataku lagi. "Bosen dong kalo sama yang itu2 terus, kan perlu variasi", jawabnya lagi. "Mau gak aku remes". "Kok om mau ngeremes Ines sih, kan Ines cuma pembantu", kataku. "Biar kamu pembantu tapi kamu gak kalah cantik dan sexi sama abg, lagian kamu masih abg juga kan", jawabnya. Aku tau dia sudah terangsang dengan omongan barusan. Aku diam saja, membereskan peralatan makan dan kubawa ke dapur. Demikian juga dengan makanan yang tidak habis dimakan, aku bawa dan simpan di lemari dapur. Aku mencuci peralatan makan.

Dia berdiri dibelakangku, memelukku dan tangannya langsung meremes toketku. "Nes, toket kamu kenceng ya, besar lagi", katanya sambil terus meremes toketku. Napsuku sudah berkobar, aku berhenti memncuci peralatan makan dan bersandar didadanya menikmati remasan tangannya di toketku. Tangan satunya segera mengelus pahaku, sedikit demi sedikit tangannya naik dan terasa bajuku tertarik sampai atas. Kemudian tangannya ke selangkangan dan jarinya menggesek-gesek bagian sensitif ku dari atas CD. "Nes, sudah basah sekali”, katanya. "Kamu sudah napsu ya". Mendengar itu aku tambah terangsang dan aku semakin merenggangkan kaki. Kemudian aku merasakan jarinya menyelinap ke balik cd dan terus masuk ke no nok ku. "Jembut kamu lebat ya Nes, panter napsu kamu besar", katanya. Gerakan jarinya enak sekali, dia pintar memainkan jarinya, apalagi setelah dia menambah jarinya untuk masuk ke no nok ku. aku sendiri sudah tidak ingat lagi apakah waktu itu aku sempat mengeluarkan suara atau tidak. tangan yang satu tetep meremas-remas toket ku. Beberapa saat aku biarkan dia begitu karena aku juga merasa enak sekali. Kemudian aku membalikkan diri dan berhadap-hadapan dengan dia. Tangannya seperti tergesa-gesa merauk baju di kedua pundak ku dan ditarik ke bawah hingga terbuka dada ku. Kemudian dia menjilat dan mengisap-isap pentil ku. aku benar benar terangsang dan sudah tidak bisa mengatur diri lagi. aku juga mulai gemes dan menggenggam kon tolnya dari atas celananya, terasa sudah menegang dan terasa ukurannya besar sekali. Begitu penasaran hingga aku menarik kepalanya yang sedang berada di dada ku dan aku cium bertubi-tubi. Dia aku dorong sedikit-sedikit ke belakang sampai menubruk kursi di belakang nya. Kemudian aku paksa duduk dia. Resleting celananya aku buka dan segera bersama dengan cdnya aku turunkan. Dia hanya diam melihat apa yang aku lakukan. kon tolnya besar dan panjang dan tidak sabar lagi aku untuk menciumnya, menjilat sekitar ujungnya. Baru sebentar saja sudah terasa cairannya keluar sedikit dari ujungnya. Selanjutnya mulai kuemut. Terasa kon tolnya penuh di mulut. Tapi baru sebentar dia sudah minta segera dilepas karena gak mau keluar di mulutku.

Setelah aku lepas kon tolnya dari mulut, aku segera naik keatasnya yang sedang duduk di kursi itu. aku juga sudah tidak sabar lagi, kapan cd dilepas juga aku tidak ingat lagi. kon tolnya aku genggam dan sedikit-sedikit aku masukkan ke no nokku, terasa kon tol yang besar masuk. Dia sedikit menarik nafas ketika kon tolnya masuk. “Om, enak banget deh kon tolnya…”, kataku. "Kamu dah napsu banget ya Nes", jawabnya. Ketika aku mulai gerak, dia berkali-kali mendesah dan memanggil-manggil namaku. aku juga tidak bisa menahan perasaan yang enak itu dan berkali kali menyebut-nyebut namanya. Akhirnya dia tidak tahan juga berdiam diri, segera dia memeluk aku dan membenamkan mukanya ke dadaku. aku hanya dapat mengelus-elus rambutnya yang ikal itu. Berkali-kali kon tolnya aku jepit dan setiap di jepit, aku juga merasakan enak di dalam no nokku. Tapi dia tidak bisa lama-lama, dia bilang sudah tidak tahan lagi, tapi aku tidak ingin selesai sekarang, aku sedang benar-benar menikmati kon tol besarnya. Dia takut pejunya keluar di dalam aku, tapi aku sudah bilang biar keluar di dalam. Belum sempat aku puas dia akhirnya ngecret juga terasa berkali-kali pejunya keluar dari kon tolnya. aku diam sampai dia tenang. "Nes, nikmat banget deh no nokmu. Lebih nikmat dari semua abg yang pernah aku en tot. no nokmu kerasa banget empotannya. Kamu udah pengalaman ngempot ya Nes", katanya terengah. "Enggak kok om, cuma diajari suami di kampung aja", jawabku. "O kamu dah kawin toh, panter napsunya besar banget, dah lama gak ngerasain kon tol masuk no nok kamu ya". katanya sambil tersenyum.

Aku bangkit dari pangkuannya. Terasa pejunya mengalir keluar dari no nokku. Dia segera menarik aku kekamarnya. "Terusin di kamarku ya Nes", katanya. Terasa dia mulai menciumi rambut ku dari
belakang dan terasa bibirnya menyentuh kuduk dan berkali kali mengecupnya, aku menjadi terangsang ketika itu dan terus dia menciumi punggung ku. Terus dia memegang kedua lengan ku dan membalikkan badan ku sehingga berhadapan. Dia memandang muka ku dari dekat dan salah satu tangannya memegang dan meremas remas toket aku. Kemudian dia mencium aku dengan nafsunya dan aku pun menerimanya dengan saling menghisap lidah. aku begitu terangsang hingga terasa no nokku semakin basah. kemudian aku duduk di tempat tidurnya dan terus merebahkan diri. kedua kaki aku dia pegang dan perlahan-lahan dia buka hingga selangkangan aku terlihat lebar-lebar, kemudian kaki kutekuk. Sambil menciumi paha ku, sedikit demi sedikit kepalanya terus naik ke atas. Ciumannya begitu membuat aku terangsang dan aku sudah sedikit mendesah, apalagi ketika bibirnya sudah dekat benar dengan selangkangan. Kemudian dia berkata “Nes, sudah basah sekali…keluar banyak sekali. Kamu dah napsu lagi ya”. Mendengar itu aku jadi
bertambah terangsang, “Om…jilat…dong…”, desahku. Mukanya segera dibenamkannya di selangkangan ku, dan tidak tahan lagi, kepalanya aku pegang dengan agak kuat dan aku tekan ke mulut no nokku. Terasa dia mulai menjilat dan menciumi sekitar i tilku, dan terasa sekali lidahnya bergerak kesana kemari, benar-benar nikmat, beberapa kali i tilku dikulumnya. Tapi dia tidak sampai memasukkan lidahnya ke dalam no nokku. Ini nikmat sekali, tidak seperti kon tol, lidahnya terasa seperti benda hidup yg bergerak berak di dalam no nokku, dia begitu pintar memainkan lidahnya.

Dia naik ke tempat tidur. kemudian aku minta merubah posisi agar aku dapat mendekat ke kon tolnya. segera aku pegang kon tolnya sambil mengelus-elus pangkal kon tolnya. Kepala kon tol
beberapa kali aku kecup dan di jilat, terutama ujungnya yang ada belahan tempat cairannya keluar itu. Dengan ujung lidah sedikit ditekan, belahan ujung kon tolnya aku jilat, terasa asin…sedikit-sedikit terlihat cairan yg agak lengket itu keluar dari ujung kon tolnya. Terdengar suaranya menahan karena napsu. Kemudian kepala kon tolnya aku kulum dan aku mainkan dengan lidah berkali kali didalam mulut, ujungnya aku hisap seperti menyedot minuman, kon tolnya berdenyut dan keluar sedikit cairan dari ujungnya. Sementara itu dia terus menjilati no nokku dengan posisi 69. aku tetap terlentang dan dia berada di atas. Tapi terus dia memberi kesempatan ke aku dengan merubah posisi menjadi terbalik, aku berada di atas dia. aku jadi lebih bebas mengemut kon tolnya yg berukuran besar itu, terus aku masukkan kemulut sampai se maksimal mungkin. air liur sengaja aku keluarkan banyak agar terasa licin dan mudah mengeluarkan dan memasukkan kon tolnya kemulut.

Karena sudah ngecret, dia bisa bertahan lebih lama selama kuemut. Jilatannyaa di seputar i til juga enak sekali terasa, beberapa kali terasa jarinya juga masuk ke no nok, entah berapa jari, tapi
yg jelas bukan satu jari. Karena begitu asyiknya, tidak terasa udara kamar semakin panas karena jendela tidak dibuka. aku merasa keringat dari sekitar leher mengalir ke bawah melewati belahan toketku.
Setelah agak lama dalam posisi 69 kemudian dia mulai bergerak merubah posisi. Dia mundur ke bawah dan badannya keluar melewati selangkangan kaki. Terus dia berlutut di tempat tidur dan tetap minta aku untuk nungging, dia mulai mendekati mulut no nok dari arah belakang. pelan-pelan kon tol yg besar itu masuk ke dalam no nokku, terasa agak susah masuknya, padahal aku sudah sangat basah dan licin. Ketika dia mulai bergerak memainkan kon tolnya keluar masuk kedalam no nok, dia berkata “Nes….enak sekali ….kecang banget rasanya no nok kamu ngeremes kon tolku….”, berkali kali aku jepit kon tolnya dan setiap di jepit, tangannya menggenggam pinggul ku lebih kencang lagi, sampai akhirnya dia menyudahi sendiri posisi ini.

Terus dia merubah posisi, duduk berhadap-hadapan dan aku seperti di pangkunya. Terasa kon tolnya lebih masuk kedalam aku dan terasa ujungnya menyentuh bagian yg paling dalam. Dia dan aku dengan irama teratur menggerak-gerakkan pinggul masing masing sehingga terasa benar benar nikmat sekali. aku mendesah2 keenakan dengan keras. Badan ku dan om Doni sudah basah dengan keringat.

Kemudian dia mendorong aku sehingga aku terlentang di tempat tidur yang sudah mulai acak-acakan itu. Posisi sudah berubah menjadi posisi normal dan dia terus semakin cepat gerakkannya, dan aku bilang ke dia untuk nyampe sama-sama. Beberapa saat kemudian dia ngecret, terasa cairan panas seperti menyembur ke dalam no nokku berkali kali, dan aku pun menyusul nyampe, berkali-kali. aku jepit kon tol nya sampai terasa badan begitu lemas dan tidak bergerak, hanya nafas yang terputus putus seperti habis lari pagi saja. Kemudian dia menciumi bibir aku, dan sambil berbisik “terima kasih Nes, nikmat banget. kapan2 kita ngen tot lagi ya". Dia rebahan di samping ku dan memandang ke langit langit, kemudian aku merubah posisi miring kesamping menghadap dia, “Kalo om sama Ines, terus cewek2 om mo dikemanain". "Udah ada kamu, ngapain cari lagi yang lain", jawabnya.

Seminggu ini dia menepati janjinya, gak bawa abg ke kamarnya. Malam minggu berikutnya, om Doni mengulangi lagi memberi aku kenikmatan. Tentunya aku tidak menolak ajakannya. Di kamarnya, dia mendekatkan wajahnya perlahan, napas hangatnya menerpa wajahku. Aku memejamkan matanya dan perlahan bibirnya mendarat lembut di bibirku. Aku tak menolak kecupan tersebut, kembali bibirnya mendarat di permukaan bibirku. Dikecupnya lagi perlahan, dan mulai melumati bibirku. Aku terpejam membalas lumatannya. Kecupan dan lumatan nya bergerak menjauhi bibirku menjalar sepanjang rahangku, bergeser turun menjelajahi leherku.

Mengecup dan menjilati dengan lidahnya yang kasap terus keatas menuju wilayah belakang telinga dan mengulum cuping telingaku dengan lembut. Aku memegang erat pergelangan tangannya, ”Om….” desah ku. Kedua tanganku meraih keatas dan merangkul bahu dan lehernya. Ciuman dan lumatan bibirnya makin bergelora. ”Hmhhhh”, desahku perlahan. Dia meraih tubuhku dan merebahkannya di tempat tidurnya. Kembali lidahnya menjalar dari bibir ranum bergerak menyusuri rahang terus mengecup leher dengan bergairah. Terus keatas ke balik cuping telinga, menjilati dan melumati nya. ”Om….” ,rintihku perlahan. Tangan nya tak tinggal diam mulai menjalar meraba -elus permukaan toketku yang masih di balut pakaian itu. Terus turun ke bawah menemukan tepian kaos dan menyelusup kedalam. Meraba- mengelus permukaan kulit ku dengan jemarinya. ”Mmmhhhh……oohhhh” ,kembali aku mengerang. pakaianku mulai tersingkap dan dengan cekatan pula jarinya melepas kait braku dan melepas pakaianku lewat kepala. Dia mengecup pangkal leherku, terus kebawah, menjilati permukaan kedua toket montokku bergantian.

Hingga…”Ahhhh…..om….”,erangku seraya menggeliatkan tubuhku saat kedua bibirnya mencucupi pentilku. Bergantian pentil yang kiri dan kanan sehingga membuatnya mengkilap karena basah. Kulumannya pada pentilku yang telah mengeras itu terasa sangat nikmat. Kedua tanganku mengerumasi rambutnya dan terkadang menyelusup ke balik kaosnya. Sembari mencucupi kedua pentilku tangannya bergerak turun mengelus kedua pahaku yang ditumbuhi bulu halus. Dia bangkit dan melepas kaosnya dan celananya. Kita kini dalam keadaan hampir telanjang hanya ditutupi CD. ”Om…..ahhhh……..”, erangku tatkala mulutnya mencucupi no nokku yang masih terbalut CD tipis itu. Kedua tangannya tak tinggal diam mengelus dan merabai kedua toketku. Jarinya juga turun dan mengelus permukaan paha, menyelinap ke balik karet cdku dan mengurut perlahan. ”Oghhhh.” ,aku tersentak saat jemarinya menyelusup ke dalam no nokku yang telah lembab itu. Mataku membeliak dan menggelinjang dengan napasnya seperti tersedak. Seluruh permukaan bagian dalam no nokku telah basah dan berdenyut-denyut. Gerakan jarinya mengelitik seluruh pemukaan peka didalamnya. Dia kembali menarik jarinya yang telah basah dan mencucupi jarinya sendiri membersihkan cairan yang menempel pada jarinya. Tangannya kembali bergerak meraih karet CDku, menariknya hingga terlepas. Begitu juga CDnya juga telah terlepas. Dia meraih kedua kaki ku, mengecupi betisku dengan lembut, menjilati dengan lidahnya yang kasap, turun terus ke bawah menjilati paha bagian dalam kedua kaki ktu bergantian. ”Om……..”, kembali aku mendesahi saat bibirnya mendarat pada bukit no nokku yang diliputi jembut yang lebat. ”Nikmati aja” , ujarnya. Lidahnya menjilati permukaan no nokku dan mendesak masuk lebih dalam. ”Aahhhhh ...ohhhhhhh” ,erangku lagi. Menemukan i tilku disana langsung dijilat dengan hisapan bertubi-tubi. Pinggulku bergerak-gerak gelisah mengimbangi serbuan lidahnya. Kedua tanganku menggerumasi rambut nya dan menekankan kepalanya. ”Om………..uhhhhhhhh” ,aku melenguh kembali. Seluruh permukaan bagian dalam no nokku itu telah basah dengan aroma khas yang makin membangkitkan napsunya. Jilatan dan hisapan yang dilakukannya membuat aku menggerinjal hebat, menggeliat-geliat di bawah tekanan kedua tangannya pada pinggulku. Gelombang demi gelombang nikmat makin bergelora menyeret dirikua hingga tak tertahankan lagi. ”Om .ooohhhhhh” ,jeritku saat aku nyampe. Tubuhku melenting, kedua tanganku mencengkeram bahunya dengan kuat. Beberapa menit situasi itu berlangsung. Dia membiarkan aku menikmatinya.

Dia merangkak naik perlahan, merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Bergoyang ke kanan dan kekiri menyibakkan kedua paha ku yang secara naluriah membuka memberikan ruang pada pinggulnya untuk merapat. Aku membuka mataku, napasku masih memburu dengan keringat pada kening dan toketku. ”Om, nikmat banget deh, padahal belum dien tot", kataku lirih. ”Nikmati saja Nes…” ujarnya. Sambil tersenyum aku menarik kepalanya kearahku, kulumat dengan ganas bibirnya. Dia kembali bergerak menggosok kon tolnya menelusuri permukaan no nokku. Maju - mundur. ”Ohhh……om…………ya disana…” ,Kembali aku melenguh karena gerakannya. Kedua tanganku yang tadi memeluk lehernya turun ke bawah dan mencengkeram pinggulnya. Kutekan inggulnya kebawah lebih kuat dan kedua kakiku mengunci di belakang pinggangnya .Dia terus bergerak maju mundur menggesekkan kon tolnya ke no nokku. Naluriah aku bergerak seirama gerakannya. Sesekali kepala kon tolnya menusuk… ”Ohh…..” desis ku karenanya.

Dia mengangkat tubuhnya hingga duduk berselonjor. Menarik pinggulku menumpu paha kedua kakinya. Kedua kakiku menekuk di sisi tubuhnya dalam posisi masih berbaring. no nokku semakin terkuak. Seraya menggenggam pinggulku, dengan tangan kirinya dia mengarahkan kon tolnya tepat pada no nokku. Dengan memegang batang kon tolnya dia mendorong kedepan….. ”Om..", desahku lirih. Dia mendorong kembali, tak terlalu dalam, hanya kepalanya yang menyeruak no nokku. Aku memegang lengannya menahankan dorongan yang terlalu jauh. Dia bergerak… Dengan jarinya yang menggenggam kon tolnya untuk membatasi, hanya ujungnya saja yang masuk, dia menggerakkan kon tolnya keluar masuk no nokku.

”Ooooohhhh……..,ohhhh….!!” , desahku keras. Pinggulku ikut menggerinjal mengimbangi gerakan kepala kon tolnya. Dia mengelus lututku dengan perlahan. ”Oooohhh……om…”, aku merintih berulang kali. Aku enggerakkan pinggulku, bergoyang dan berputar- putar. Gerakan itu menyebabkan no nokku yang telah basah itu serasa di aduk – aduk oleh kepala kon tolnya. ”Om...”,panggilku lirih. ”Hmm...”, dia cuma menggumam, "Kenapa?". "Rasanya makin nikmat om", erangku lagi. "om..”, jeritku kecil seraya
memutar pinggulku perlahan. Tubuhku bergetar, pahaku mengejang. Perlahan kon tolnya tenggelam mili demi mili di telan no nokku. aku mencoba duduk, memeluk ketat lehernya, menggigit kecil pundaknya dan mendesakkan tubuhku turun, hingga seluruh kon tolnya terbenam utuh. ”Aah", jeritku. Langsung aku merebah ambruk menyeret tubuhnya. kedua kakiku langsung kursilangkan di belakang mengunci pantatnya. Dengan napas tersengal – sengal kami berbaring melekat erat. Dia mengangkat wajahnya menatap wajahku yang berpeluh. Aku mengecup keningnya, "om, tuntaskan dong", pintaku lirih. no nokku terasa mencengkeram erat kon tolnya. Dia bergerak naik hingga kon tolnya terlepas kembali dari cekalan no nokku. ”Mmmhhh…uhf”, dia mendesis. Kedua tangannya bergerak turun menemukan kedua pahaku, ditariknya kedua kakiku keatas melewati lengannya, mengunci kedua lututku dengan lengan dan sikunya. Sehingga pinggulku mengangkat menguakkan no nokku. Om, .lagi…lagi………terusskan sekarang……!”,pintaku parau. ”Bener ini…? ”, tanyanya kurang yakin. ”Sekaraaanng……..om, ssekaraaang, Ines ga…tahann..ayoo..!” ,rengekku lagi seraya menekan pantatnya kearah tubuhku lebih erat. ”Ayo….om", rintihku tatkala dia menempelkan kepala kon tolnya ke permukaan no nokku dan bersiap mendorong……. Ujung kon tolnya yang tegak dari tadi mendesak masuk. Aku mencoba membantu mempermudah dengan menggerakkan pinggulku. Dia dengan sabar menunggu, menekan pelan, sangat pelan. ”Ohh……….om…….”, aku kembali mengerang. Dia menghentikan tekanan. Diiringi jeritanku dan tancapan kukuku ke punggungnya, kepala kon tolnya kembali membelah no nokku. Kedua bola mataku membeliak. tubuhku menggigil dan cengkeraman kedua tanganku semakin kuat pada pantatnya. ”Ahhhhhh………………!!!” ,rintihku. Tubuhku mengejang, kepalaku mendongak tatkala dia bergerak mendorong perlahan. Matakuu membeliak menikmati mili demi mili masuknya kon tolnya ke no nokku. Dia kembali mendorong pinggulnya dengan perlahan membenamkan seluruh kon tol besarnya ke dalam no nokku. Dia mulai bergerak perlahan naik turun, merasakan jepitan dan denyutan no nokku mengurut dan memijat kon tolnya. ”Om...", erangku semakin keras tak beraturan lagi. Tubuhku yang telah berkeringat di sana sini mengelinjang-gelinjang dengan hebat ditingkahi gerakan naik turun tubuhnya diatasku. Kaki kananku terlepas dari siku Dino dan mengunci ke belakang pinggangnya. Terkadang dia berhenti sejenak, tetapi dengan mengedan mendenyut-denyutkan kon tolnya di dalam no nokku menimbulkan variasi tekanan yang berbeda - beda pada permukaan no nokku. Peluh telah bercucuran membasahi tubuh kami. ”Ohhh,…….ahhhhhh,………….”,jerit ku setiap denyut-denyut kon tolnya dalam tubuhku menyentuh pusat birahiku. ”Lagiii…..teruss……..ahh…..”. Dia terus bergerak naik turun diatas tubuhku, aku merasakan nikmat yang luar biasa setiap kali kon tolnya menghunjam.

Tubuhku mulai menggigil dan dia tahu aku hampir nyampe. Diapun memacu gerakan memompanya, kon tolnya menghunjam keluar no nokku semakin cepat. ”Ya om…………ohhh..Ines ’ga tahan…lagiii…”, jeritku parau ”Ahhhhhhhh……………………….Om………..Ines nyampe om…ohh” ,jeritku. Aku melengkungkan punggungku, kedua pahaku mengejang serta menjepit dengan kencang, seluruhan badanku berkelojotan dan nafasku tersengal-sengal. Aku merasa lemas seakan-akan seluruh tulangku copot. Aku kelojotan di bawah dengan kedua tanganku memeluk ketat dan kakiku terkangkang lebar dengan kon tolnya masih terjepit didalam no nokku. no nokku berdenyut – denyut dengan cepat, berkontraksi mengurut kon tolnya. Mataku membeliak, tubuhku melenting dan kucengkeram pantatnya, menekannya dengan kuat kearah tubuhku. Dia bergerak makin cepat walaupun makin sulit, karena kuncian tanganku. Makin cepat menghunjam dan akhirnya tak tertahankan lagi dengan suatu sentakan menekan keras kon tolnya menyentuh dasar no nokku, "Oughhh………..” ,seraya menggeram dia ngecret, beberapa kali menyemburkan peju kentalnya dalam no nokku. Berkali-kali semburan itu terulang hingga daya semburnya melemah dan mereda, lalu tubuhnya ambruk diatas tubuhku. Setelah mereda dia menggeliat menjatuhkan tubuhnya ke sisiku. Berdua kami terdiam sesaat. Aku bergerak mengecup ringan pipinya. ”Makasih om…………, gile beneerrr…..” pujiku. ”Apanya yang terimakasih” ujarnya sambil merapihkan rambut yang jatuh di wajahku. ”Terus terang om, nikmatnya lebih dari ketika kita ngen tot minggu yang lalu. Wuihhh….bukan main rasanya”,imbuhku lagi. ”Kapan-kapan lagi ya om?.”pintaku memohon. Dia tak menjawab dan hanya menjatuhkan kecupan pada kedua mataku

Cerita Sex Pembantu Toge Butuh Kehangatan



Kisah ini bermula ketika aku mencari tempat kost di daerah sekitar kampus. Setelah sekian lama berputar-putar, akhirnya sampailah aku di suatu rumah. Lokasinya enak, sejuk dan rindang. Dalam hati aku menjadikan rumah ini sebagai kost cadangan seandainya aku tidak mendapatkan tempat kost. Setelah ngobrol dengan ibu kost tentang masalah harga, datanglah anak ibu kost yang nomor 3, namanya Mbak Desi (itu kuketahui setelah aku kost di situ). Pertama melihat Mbak Desi aku langsung bergetar, gila cantik sekali.

Sempat terselip di benakku untuk berhubungan badan dengannya tapi perasaan itu langsung kusingkirkan sebab di depanku ada ibunya, jadi aku berpura-pura manis dan tersenyum pada Mbak Desi. Setelah sekian lama, akhirnya aku kost di situ. Dan hari-hariku kusempatkan mencuri perhatian ke Mbak Desi, tiap kali kupandangi dia makin kelihatan inner beauty-nya. Begitu cantik dan tidak bosan-bosan dipandang. Dan yang membuatku semangat untuk mengejarnya adalah dia juga memberi respon atas kerlingan-kerlingan mataku dan tingkahku. Walaupun dia sudah bersuami dan mempunyai anak satu, tapi keindahan tubuhnya masih kelihatan, ini terbayang dari baju tidur yang dia kenakan tiap pagi, tipis dan tembus pandang, jadi kalau Mbak Desi berjalan aku selalu ada saja acara untuk mengikutinya entah mandi, ke belakang atau entah apa saja yang dia lakukan.

Dan sesekali kalau rumah sedang sepi, aku berjalan di belakangnya sambil mengocok batang kemaluanku yang selalu tegang bila melihat dia sambil berimajinasi berhubungan badan dengan Mbak Desi. Ini kulakukan beberapa kali, sampai suatu saat ketika aku sedang mengocok batang kemaluanku, tiba-tiba Mbak Desi berbalik dan berkata, "Entar kalau udah keluar di lap ya..." tentu saja aku jadi belingsatan, tapi aku cepat menguasai situasi, dengan berterus terang sama Mbak Desi, "Entar Mbak, tanggung nich..." dan aku pun makin mempercepat kocokanku dengan harapan aku semprotkan di perut Mbak Desi, sebab waktu itu Mbak Desi berbalik dan berhadap-hadapan denganku.

Dan tanpa di sangka Mbak Desi membungkuk dan mengulum batang kemaluanku, tentu saja aku makin terangsang oleh sentuhan-sentuhan lidah Mbak Desi, tampak Mbak Desi mengulum dengan penuh nafsu diiringi oleh sedotan-sedotan dan gigitan kecilnya, sesaat kemudian kemaluanku mulai berdenyut dan makin menegang keras. "Terus Mbak... oh.. oh.. oh... enak Mbak..." bagaikan melayang di awan kepalaku mulai berkunang-kunang, dan Mbak Desi pun sepertinya tahu situasi saat itu, dia pun mulai mengocok dengan tangannya dengan irama cepat. "Ooh.. Mbak.. Mbak.. aku mau keluar Mbak... oh.. oh.. oh... sshh.. shh.. ah..." Crott... croott... keluarlah air maniku banyak sekali membasahi bibirnya berkilat-kilat diterpa sinar lampu dapur.

Dan tanpa pikir panjang aku langsung mengulum bibirnya yang masih dipenuhi spermaku, sambil aku bergerilya di sepanjang dadanya, yang kira-kira berukuran 36. Setelah beberapa saat dia mulai mengendurkan ciumannya dan berkata, "Sekarang bukan waktunya Dik..." Kejadian di dapur itu selalu teringat olehku dan selalu menjadi imajinasiku. Hari berikutnya aku makin sering menggoda dia, tanpa sepengetahuan suaminya. Suatu saat suaminya ada keperluan keluar kota, saat itulah yang kutunggu-tunggu untuk iseng mengajaknya jalan, dengan alasan ingin diantar ke Cihampelas membeli baju. Mbak Desi pun mau, jadilah aku keluar bersama dia. Di tengah perjalanan aku ngobrol dengannya, mengorek tentang rumah tangganya terutama masalah kehidupan seksualnya.

Ternyata dia saat itu sedang suntuk di rumah dan ingin main keluar, langsung saja kusambut kesempatan itu, kuajak dia main ke daerah pegunungan di Lembang. Di sana dingin sekali, dan aku mulai memberanikan diri memegang tangan dan pahanya. Sambil menggodanya, "Mbak dingin-dingin gini enaknya apa ya..." kataku. "Ee... apa ya..." katanya. "Kita sewa hotel aja yuuk.. Mbak Desi kedinginan nich..." katanya lagi. Sebuah permintaan yang membuatku deg-degan, langsung saja kubelokkan ke sebuah hotel yang kelas Rp 50.000-an, "Gimana Mbak, udah anget belum..." tanyaku di dalam kamar. "Anget gimana? tidak ada yang memeluk kok anget..." jawab dia. "Bener nich..." kataku. Langsung saja kudekati dia dan tanpa canggung lagi aku mulai mencium bibirnya, dan dia pun membalas, ternyata dia begitu mudah terangsang oleh ciumanku yang langsung kuteruskan dengan menjilati leher disertai dengan gigitan kecil.

Aku pun mulai bergerilya dengan menelusupkan tanganku di balik kaosnya. Busyet, dia tidak memakai BH di payudara yang berukuran 36B. Aku buka kaosnya dan tampaklah sebuah gundukan 36B dengan puting yang merah kecoklatan. Begitu bersih dan putih tubuhnya, kujilati leher dan pelan-pelan turun ke dadanya. Mbak Desi pun melengus perlahan sambil mengacak-acak rambutku. Hingga sampai saat aku melingkar-lingkarkan lidahku di seputar puting susunya, dia makin keras melenguh, hal itu makin membuat nafsuku memuncak, "Iseep... Dik... iseepp... terusss... aahh..." Kusedot putingnya dan saking memuncaknya nafsuku, kugigit putingnya, dia semakin menggila mendesah-desah tak karuan. Perlahan-lahan aku memasukkan tanganku di balik celana jeansnya.

Oh, begitu lembut bulu kemaluannya disertai dengan basahnya bibir kemaluannya. Kulepas baju dan celananya sampai keadaan telanjang bulat, begitu mulus tubuhnya, sejenak kupandangi tubuhnya dengan tertegun, lalu aku gantian melepas semua baju dan celanaku hingga kami berdua telanjang bulat tanpa selembar benang pun. Kugigit-gigit kecil dan jilati perutnya perlahan-lahan sambil terus turun ke arah pangkal pahanya, terus turun sampai ke telapak kaki kiri dan kanan. Kubalikkan badannya hingga dia tengkurap, lalu dari belakang leher kujilati perlahan-lahan sambil menggigit kecil dan turun, "Ohh... Diikk... terus Dikk... oh... oh... enak Diikk..." erangan Mbak Desi disertai dengan belaian usapan telapak tangan lembutnya.

Terus turun dari punggung ke arah pantat, sampai di pantat kugigit dia saking menahan nafsuku, dia pun meregang menjerit kecil. Lalu hingga tiba di daerah selangkangannya, kulihat kemaluannya merah dan basah berkilat-kilat oleh karena lendir birahi, pelan-pelan kujilati pinggiran kemaluannya dengan gerakan melingkar di pinggir kemaluannya. Aku pun mulai membuka bibir kemaluannya dengan kedua tanganku tampaklah klitorisnya yang sudah menegang berwarna merah. Perlahan-lahan kujilat klitorisnya pelan tapi pasti sambil kugerakkan naik turun sepanjang garis kemaluannya.

Mbak Desi pun makin mengerang, menghempaskan badannya ke kiri dan ke kanan sambil sesekali menjambak rambutku disertai teriakan kecil. Beberapa saat kemudian Mbak Desi mulai mengejang dan bergetar sambil meringis menahan sesuatu, "Ahh... ahh... Dik... aku keluuaar...." sambil menggigit bibirnya. Mbak Desi bangkit lalu mambalikkan badanku hingga aku pun terhempas telentang, dia mulai mencium bibirku, leher dan tibalah di daerah paling sensitifku, di kedua putingku, aku mulai mendesah ketika Mbak Desi menjilatinya, Mbak Desi tanggap akan hal itu, dia terus menjilatinya dan karena aku tidak tahan lagi kusuruh dia menggigitnya keras-keras. Aku pun blingsatan menahan nikmat tak terkira, makin keras gigitannya makin puas kurasakan.

Di tengah kenikmatan itu tiba-tiba ada sesuatu yang merasuk dan menancap di kemaluannku, gila rasanya mau meletup dan pecah kepala ini merasakan kenikmatan itu, ternyata Mbak Desi sambil mengigit putingku dia memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. "Bless..." batang kemaluanku yang masih kering itu pun terbenam di belahan daging hangat dan basahnya. Aku sempat menggigit dada Mbak Desi karena kenikmatan itu. Perlahan-lahan Mbak Desi menggerakkan badannya naik turun, sedangkan aku hanya terpejam diam menikmati surga dunia itu, "Aah... ah... ah... gila kau Mbak... gila kamu... ah... Mbak pintar sekali... enak Mbak... oh... terus... ah... ah..." aku mengerang kenikmatan. Mbak Desi yang terus menggoyang badannya membungkuk lalu menjilati dan menggigit putingku, satu gaya yang bisa membunuhku dengan kenikmatan, aku pasrah pada situasi. "Bunuh aku dengan tubuhmu Mbak..." kataku, Mbak Desi hanya tersenyum simpul.

Mbak Desi tetap di atasku tapi posisi punggungnya membelakangiku, aku kurang sreg lalu kusuruh dia berbalik lagi, Mbak Desi berbalik lagi dan dia menyodorkan payudaranya ke arah mulutku, aku pun mulai menghisap dan mengulum sekuatku. Tiba-tiba tubuh Mbak Desi bergetar hebat sambil meremas kedua lenganku dan kadang-kadang mencakarku, dia keluar untuk kedua kalinya. Aku berhenti sebentar, supaya kondisi kemaluannya pulih kembali sebab dia sudah mencapai puncak orgasmenya. Aku ganti di atas, perlahan-lahan kuarahkan kemaluanku ke depan bibir kemaluannya, sengaja tidak kumasukkan dulu tapi kubuat main-main dulu dengan cara kuserempetkan ujung kepala kemaluanku ke klitorisnya, dia mulai mengerang lagi. Dengan perlahan kumasukkan batang kemaluanku ke lubang kenikmatannya yang sudah basah oleh

semprotan cairan Mbak Desi. "Bluess..." batang kemaluanku dengan gagahnya maju memasuki liang surga Mbak Desi. "Ooh... Dik... enak Dik... oh... terruus... Dik... ohh... oohh..." sambil tangannya meremas kedua putingku. Aku semakin mempercepat goyangan, setelah beberapa lama keringatku pun membasahi dada Mbak Desi, butir demi butir laknat pun jatuh seiring dengan bertambahnya argo dosaku, tubuh kami berdua berkeringat hingga kami pun bermandi peluh.

Justru hal itulah yang membuatku makin bernafsu. Sambil merem melek aku menikmati hal itu, hingga perutku mulai mengeras, otot perut mulai mengencang siap untuk meledakkan sesuatu, bergetar hebat. "Oh... Mbak aku mau keluar... Mbak... oh... aku mulai keluar Mbak... Keluarin di mana Mbak... dalem ya.. oh... oh..." aku mengerang kenikmatan. "Keluarin di dalam aja Dik, Mbak juga sudah mulai keluar kok... yah... yah... terus Dik... dipercepat... ya begitu... oh... oh terus Dik..." dengan menjerit Mbak Desi terlihat pasrah. "Ooh... Mbak... sekarang... Mbak... oh... ah... ahh... sshh... ah..." "Croot.. croott.. croooooott.. crett..." kusemburkan spermaku di dalam liang kemaluan Mbak Desi, begitu banyak spermaku sampai-sampai tertumpah di sprei.


Cerita Sex Kugauli Anak Cantik Ibu Kost